KEPRI

Warga Citra Batam Keluhkan Limbah Project Meistertadt Batam (Pollux Habibie)

Genangan air bercampur lumpur genangi perumahan citra Batam, Selasa (26/12/2017) siang. Foto prokepri.com/IRA.

PROKEPRI.COM BATAM – Sedikitnya 80 kepala keluarga (KK) warga Perumahan Citra Batam, Kota Batam mengeluhkan limbah project Meistertadt Batam (Pollux Habibie) yang menggenai jalan, pekarangan dan pemukiman warga yang bersebelah dengan project super blok milik mantan Presiden B.J. Habibie itu.

Tak hanya masalah analisa dampak lingkungan (AMDAL) yang dirasakan langsung warga bermukim di Komplek Citra Batam. Warga juga mengeluhkan genangan air dan lumpur dari limbahan dari project yang akan dikembangkan jadi apartemen, mal, rumah sakit, perkantoran, universitas dan fasilitas lainnya di atas lahan dengan luas 9 ha yang juga mencakup 11 tower.

“Selain masalah Amdalnya, ditambah dengan limbah buangan air dan lumpur dari project itu yang menggenangi perumahan. Belum lagi menimbulkan suara kebisingan dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga yang tinggal bersebelahan dengan proyek Pollux Habibie tersebut,”kata Indra, Ketua Rukun Warga (RW) 01, Kelurangan Teluk Tering, Kecamatan Batam Kota mewakili warganya kepada prokepri, di Batam Center, Selasa (26/12/2017) siang.

Ia meminta Pemerintah Kota Batam dan BP Batam untuk turun tangan menyelesaikan masalah warga Perumahan Citra Batam dengan proyek Pullox Habibie yang sudah berlarut-larut ini. Diakuinya, selama ini ada pertemuan yang difasilitasikan oleh Lurah terkait Amdal proyek, tetapi hanya terkesan formalitas saja, tidak terlihat itikad baik dari perusahaan tersebut.

“Warga kami merasakan langsung dampak negatifnya, selain air yang menggenang terutama disaat hari hujan curahan dari dinding project pollux habibie. Juga menimbulkan kotoran dan debu dan lumpur yang dirasakan langsung masyarakat di perumahan Citra Batam ini. Pernah mereka janji buat Bak bendungan dari pralon lubang air yang keluar dari project Pollux itu, tetapi nyatanya tidak ada,” kesal Indra didampingi warga lainnya.

Ia mengatakan, setahun lebih project tersebut berjalan selama itu pula dirasakan dampak negatifnya bagi warga Perumahan Citra Batam. Bahkan pernah dibuat kesepakatan bersama antara pihak pollux yang diwakili humasnya Saraswati dan Indratmo dengan perwakilan warga di kantor Lurah. Namun tidak ada realisasi dan niat baik perusahaan untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan di perumahan.

“Warga juga sudah mulai kesal dan marah. Sampai mau anarkis tapi kami sebagai perangkat RT dan RW masih dapat meredam gejolak warga. Kami minta Pak Wali kota Batam dan pihak terkait untuk segera turun tangan segera bertindak menyelesaikannya,”pinta Indra.

Salah seorang warga, Lam (46) mengaku sangat menyayangkan sikap dari pelaksana project Pollux Habibie yang amdalnya berdampak langsung terhadap perumahan tempat tinggalnya yang dirasakan sangat dampaknya.

“Akibat proyek Pollux Habibie ini, air dan lumpur melimpah ke perumahan warga Citra Batam. Kayaknya mereka sengaja membuat pipa pembuangan yang mengenai pemukiman kita. Apalagi kalau hari hujan, air dari dinding proyek Polloux ini melimpah dan menggenangi perumahan kami,”ujarnya kepada prokepri.

Dikutip prokepri dari PropertiLaunch, proyek superblok milik mantan presiden B.J. Habibie, Meistertadt Batam tersebut ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2019 setelah melakukan prosesi dari groundbreaking. Proses groundbreaking tersebut adalah untuk membuktikan komitmen dari perusahaan untuk bisa mengembangkan serta memajukan perekonomian di kawasan Batam.

Meisterstadt adalah merupakan proyek kerja sama yang berkelanjutan antara Pollux Properties dengan B.J. Habibie. Kawasan kota Batam juga telah menjadi tempat tujuan ketiga yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan di Indonesia setelah kawasan Jakarta dan Bali. Letak dari kota tersebut juga cukup strategis dan berbatasan langsung dengan negara Singapura.

Nantinya di proyek tersebut akan dikembangkan apartemen, mal, rumah sakit, perkantoran, universitas dan fasilitas lainnya di atas lahan dengan luas 9 ha yang juga mencakup 11 tower. Untuk fase pertama akan dikembangkan apartemen dengan luas 24-41 m2 dengan harga ntara Rp 300 juta- Rp 800 juta selain nantinya juga akan ada 128 unit ruko.

Sampai berita ini tayang, Managemen maupun Humas Meistertadt Batam (Pollux Habibie) Saraswati dan Indratmo belum berhasil dikonfirmasi. Karena didatangi project yang berlokasi di perampatan Simpang Frengki Batam itu, pintu proyek tertutup dan tidak nampak karyawan dan petugas di sana. (ira)

EDITOR : INDRA H

Back to top button