OPINI

AI dan Pendidikan Tinggi

Oleh: Dr. Dimas Indianto S.,M.Pd.I., Budayawan, Peneliti, dan Dosen UIN Saizu Purwokerto

Ilustrasi AI di perguruan tinggi. Foto desaign baladena

PROKEPRI.COM, OPINI – Di tengah gelombang revolusi digital yang kian menggulung batas-batas ruang dan waktu, perguruan tinggi berdiri di persimpangan sejarah baru. Dunia akademik yang dahulu berakar pada pena dan kertas, kini berhadapan dengan mesin yang mampu berpikir, menulis, bahkan menganalisis lebih cepat dari manusia. Artificial Intelligence (AI) tidak lagi sekadar teknologi, AI telah menjelma menjadi cermin filsafati tentang eksistensi manusia di tengah dunia yang kian terdigitalisasi.

Pendidikan tinggi, yang sejatinya menjadi taman bagi pertumbuhan nalar dan peradaban, kini harus menatap mata mesin dengan pandangan reflektif. Filsafat pendidikan mengajarkan bahwa hakikat belajar bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan transformasi diri. Namun, apakah transformasi itu masih mungkin terjadi jika pengetahuan telah direduksi menjadi algoritma, dan manusia sekadar pengguna yang pasif di hadapan layar?

AI telah memasuki ruang kuliah, laboratorium, dan bahkan ruang sunyi penelitian. Sistem pembelajaran adaptif, chatbot akademik, hingga algoritma penilai tugas telah menjadi bagian dari keseharian kampus. Berdasarkan laporan UNESCO tahun 2024, lebih dari 60% perguruan tinggi di dunia telah menggunakan teknologi AI untuk menunjang proses pembelajaran. Di Indonesia, sejumlah universitas mulai menerapkan asisten AI untuk membantu dosen dalam analisis kehadiran, evaluasi, hingga pembimbingan skripsi.

Paradoks Kecerdasan Buatan

Kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan filsafati, apakah AI sekadar alat bantu, atau justru menjadi pengganti sebagian fungsi manusia dalam pendidikan? Heidegger pernah mengingatkan kita dalam bukunya “The Question Concerning Technology” bahwa manusia harus berhati-hati terhadap teknologi yang mampu “menyingkap” dunia, namun juga berpotensi “menyembunyikan” kemanusiaan itu sendiri. Dalam konteks pendidikan tinggi, AI bisa menjadi wahana pencerahan atau justru tirani efisiensi yang mengikis makna pendidikan.

Paradoks ini menuntut refleksi mendalam. Di satu sisi, AI menjanjikan percepatan luar biasa dalam riset dan pembelajaran. Di sisi lain, AI mengancam hakikat kehadiran manusia sebagai subjek pembelajar. Paulo Freire dalam “Pedagogy of the Oppressed” menekankan bahwa pendidikan harus bersifat dialogis, yakni sebuah proses kesadaran kritis yang menempatkan manusia sebagai pelaku perubahan. Ketika AI mengambil alih sebagian besar proses berpikir, bagaimana dialog itu tetap hidup di antara manusia dan teknologi?

Dosen, yang dahulu menjadi sumber utama keilmuan, kini berubah peran menjadi kurator dan fasilitator. Mahasiswa pun tidak lagi sekadar penerima, tetapi juga pengelola pengetahuan yang dihasilkan bersama mesin. Dalam konteks ini, AI dapat memperluas horizon berpikir jika digunakan secara etis dan reflektif. Namun, tanpa panduan nilai, pendidikan bisa terperangkap dalam logika instrumental yang kering dan mekanistik.

Dalam horizon filsafat, AI menghadirkan pertanyaan eksistensial tentang relasi manusia dan pengetahuan. Jika pengetahuan dapat diproduksi tanpa kesadaran, apakah ia masih dapat disebut kebijaksanaan? Aristoteles membedakan antara “episteme” (pengetahuan teoretis) dan “phronesis” (kebijaksanaan praktis). Di sinilah pendidikan tinggi harus menemukan kembali rohnya, bukan hanya mengajarkan algoritma, tetapi juga menghidupkan nurani dan hikmah dalam berpikir.

Pendidikan Tinggi masa depan mungkin akan diwarnai oleh ruang-ruang virtual, dosen avatar, dan penelitian yang dikerjakan bersama sistem cerdas. Namun, jiwa pendidikan tinggi tetap terletak pada interaksi manusiawi, pada percakapan, perdebatan, dan perenungan yang melampaui data. AI bisa meniru kecerdasan, tetapi tidak bisa menggantikan kesadaran. AI bisa memahami struktur kalimat, tetapi tidak dapat merasakan makna penderitaan atau cinta. Dalam hal ini, dimensi psikologis pendidikan tetap mebutuhkan interaksi fisik antara dosen dan mahasiswa, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh mesin paling cerdas sekalipun.

Dalam konteks pedagogi mutakhir, teori konektivisme yang dikemukakan oleh George Siemens menjadi relevan dengan dunia pendidikan kita. Teori ini memandang belajar sebagai proses membangun jejaring antara manusia, data, dan mesin. Pendidikan tinggi harus mengadopsi paradigma ini, bukan sekadar untuk mengejar efisiensi, tetapi untuk memperluas ruang kolaborasi dan kreativitas lintas batas.

Ancaman Epistemologis

Namun, di balik peluang itu, terdapat ancaman epistemologis yang halus. Ketika AI menjadi sumber kebenaran baru, Pendidikan Tinggi berpotensi kehilangan otonominya sebagai penjaga nalar kritis. Filsafat pendidikan kritis mengingatkan kita bahwa pengetahuan selalu berkelindan dengan kekuasaan. Maka, integrasi AI dalam pendidikan tinggi harus diiringi kesadaran etis agar teknologi tidak menjadi instrumen hegemoni baru.

Dalam ruang-ruang akademik Indonesia, fenomena ini mulai terasa. Mahasiswa menggunakan AI untuk menulis esai, menulis makalah, mengerjakan UTS/UAS, menganalisis data, bahkan merancang penelitian atau tugas akhir. Dosen pun memanfaatkan AI untuk mengerjakan banyak pekerjaan administratif. Namun, sering kali proses reflektif terabaikan. Padahal, pendidikan sejati lahir dari kesadaran, bukan dari kecepatan. AI seharusnya menjadi cermin bagi manusia untuk memahami batas-batas dirinya.

Filsafat eksistensial mengajarkan bahwa manusia menemukan makna bukan dari efisiensi, tetapi dari perjuangan dan kesadaran atas keterbatasan itu sendiri. Ketika pendidikan tinggi melatih mahasiswa berinteraksi dengan AI, yang harus dibangun bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kepekaan moral dan tanggung jawab intelektual. Tentang perhitungan matang dalam penggunaan AI ini sebagaimana sudah diingatkan dalam Pupuh Kinanthi Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV, Upamane wong lumaku, marga gawat den liwati, lamun kurang ing pangarah, sayekti karendet ing ri, apese kasandhung padhas, babak bundhas anemahi, yang artinya Bagaikan orang berjalan, melewati jalan yang berbahaya, jika kurang perhitungan, maka akan tertusuk duri, setidaknya terantuk batu cadas , akhirnya terluka parah.

Pendidikan tinggi di era AI adalah perjalanan menuju sintesis baru antara nalar dan nurani. Pendidikan Tinggi harus menjadi laboratorium kebijaksanaan, bukan sekadar pabrik data. Dosen dan mahasiswa harus bersatu dalam semangat ‘co-creation”, mencipta bersama teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi ilmu pengetahuan.

Rekonstruksi Pengalaman

Filsafat pendidikan modern, sebagaimana ditegaskan oleh John Dewey, menekankan bahwa pendidikan adalah proses rekonstruksi pengalaman secara terus-menerus. AI dapat memperkaya proses itu, asalkan digunakan untuk memperluas pengalaman manusia, bukan menggantikannya. Pendidikan tinggi harus menjaga keseimbangan antara inovasi dan refleksi, antara teknologi dan kebijaksanaan. Dalam konteks ini, masa depan pendidikan tinggi tidak ditentukan oleh seberapa canggih AI yang digunakan, melainkan oleh seberapa dalam manusia memahami dirinya melalui AI.

Teknologi hanyalah media, manusia tetap pusatnya. Pendidikan tinggi yang bijak bukan yang paling modern, tetapi yang paling manusiawi dalam memaknai kemajuan. Kita tidak boleh membiarkan AI membuat manusia menjadi teralienasi dengan dirinya sendiri. Maka, biarlah AI menjadi mitra dalam perjalanan intelektual, bukan pengganti kesadaran. Biarlah pendidikan tinggi tetap menjadi rumah bagi perenungan, di mana pikiran dan hati bertemu, dan teknologi tunduk kepada kebijaksanaan. Sebab pada akhirnya, pendidikan sejati adalah tentang menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar makhluk yang tahu, tetapi yang mengerti makna mengetahui.***

Back to top button