Tower Telekomunikasi di Anambas, Masyarakat Pesisir Masih Hadapi Sinyal Lemah di Tengah Aktivitas Ramadan

PROKEPRI.COM, ANAMBAS – Kabupaten Kepulauan Anambas saat ini memiliki sekitar 66 menara telekomunikasi (BTS) yang tersebar di sejumlah kecamatan seperti Siantan, Palmatak, Jemaja, hingga wilayah pesisir dan pulau-pulau terpencil.
Namun, di balik angka tersebut, pemerataan kualitas jaringan masih menjadi pekerjaan rumah, terutama bagi masyarakat pesisir.
Dari total tersebut, sekitar 36 tower merupakan milik operator reguler nasional seperti Telkomsel, XL Axiata, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Smartfren dengan jaringan 4G terestrial dan pasokan listrik PLN. Khusus Telkomsel, tower operator reguler tercatat sekitar 22 unit yang umumnya berada di pusat kecamatan dan wilayah padat penduduk.
Sementara itu, sekitar 29–30 tower lainnya merupakan bagian dari program Universal Service Obligation (USO) yang ditujukan untuk menjangkau wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Tower USO ini mayoritas menggunakan jaringan 4G berbasis VSAT (satelit) dengan sumber listrik tenaga surya dan memiliki tinggi menara antara 18 hingga 32 meter.
Tower USO Telkomsel tercatat paling banyak, sekitar 15 site yang tersebar di desa-desa seperti Belibak, Impol, Lingai, Mengkait, Air Bini, Telaga, serta wilayah Jemaja Timur dan Siantan Selatan. Tower USO XL sekitar 12 site, sebagian besar dibangun pada 2022, sedangkan USO Indosat tercatat hanya dua site di Siantan Timur.
Perkembangan Infrastruktur: Dulu dan Sekarang
Jika menilik kondisi satu dekade lalu, sebagian besar wilayah Anambas hanya mengandalkan jaringan 2G dan 3G dengan jangkauan terbatas di ibu kota kecamatan. Di beberapa desa, masyarakat bahkan harus mencari titik tertentu di perbukitan atau tepi pantai untuk mendapatkan sinyal.
Masuknya program USO dan ekspansi 4G beberapa tahun terakhir memang membawa perubahan signifikan. Kini hampir seluruh kecamatan telah memiliki akses jaringan dasar untuk komunikasi dan internet.
Namun, kualitas dan kestabilan jaringan masih belum merata, terutama di wilayah pesisir dan pulau kecil yang terhalang kontur perbukitan serta cuaca ekstrem.
Tower operator reguler dengan kapasitas lebih besar—rata-rata setinggi 52 hingga 72 meter—terkonsentrasi di wilayah pusat seperti Tarempa, Letung, Air Asuk, dan Payamaram. Dampaknya, kualitas jaringan di pusat kabupaten relatif lebih stabil dibanding wilayah pesisir dan desa terpencil.
Keluhan Warga Pesisir
Di Desa Air Bini, Kecamatan Siantan Selatan, aktivitas warga tetap berjalan normal di awal Ramadan. Warga Genting dan Dusun Desan disibukkan dengan berjualan kue, memperbaiki bagan tangkap cumi, hingga mempersiapkan kebutuhan berbuka puasa.
Namun di balik rutinitas tersebut, persoalan sinyal masih menjadi keluhan utama.
Sejumlah warga menyebut tower yang ada belum mampu menjangkau seluruh permukiman. Jaringan internet kerap tidak stabil, bahkan untuk membuka browser di laptop.
“Tower yang kecil ini belum cukup untuk akses kami di sini. Browser di laptop saja sering tidak bisa, apalagi sekarang banyak tugas sekolah daring. Anak saya harus mencari WiFi ke kantor camat yang jaraknya cukup jauh,” ujar salah seorang warga Genting, Rabu (26/2/2026).
Keluhan serupa disampaikan warga Dusun Desan. Mereka menyebut sinyal hanya muncul dalam kondisi tertentu dan sering hilang ketika cuaca buruk.
“Tower kecil ada, tapi sinyalnya tidak sampai ke lokasi kami. Kadang pun tidak stabil. Di sekitar rumah saya hanya bisa pakai WiFi desa. Anak-anak kalau mau kerjakan tugas harus ke WiFi desa atau ke kecamatan,” ungkap warga lainnya.
Tantangan Geografis dan Harapan Masyarakat
Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kepulauan Anambas, Abdul Kadir, mengatakan pemerintah daerah terus berkomunikasi dengan operator seluler nasional agar pembangunan tower reguler dapat diperluas hingga ke wilayah pesisir dan pulau terluar.
“Pemda terus berkomunikasi dengan operator seluler bagaimana tower operator reguler bisa terbangun di daerah pesisir kita, sehingga kualitas jaringan telekomunikasi bisa lebih baik dan merata,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketergantungan pada tower USO berbasis VSAT memang memiliki keterbatasan kapasitas dan kestabilan, terutama saat cuaca buruk. Karena itu, pembangunan tower terestrial berkapasitas besar dinilai penting untuk mendukung aktivitas nelayan, pelaku UMKM, pendidikan, serta layanan pemerintahan berbasis digital.
Dengan kondisi geografis Anambas yang terdiri dari pulau-pulau terpencar, pemerataan infrastruktur telekomunikasi masih menjadi tantangan. Meski jumlah tower terus bertambah dibanding beberapa tahun lalu, kesenjangan kualitas jaringan antara pusat kabupaten dan wilayah pesisir masih terasa.
Di bulan Ramadan yang identik dengan komunikasi intensif antara warga dan keluarga, masyarakat pesisir berharap investasi operator reguler dapat segera menjangkau desa-desa terpencil, sehingga akses pendidikan, ekonomi, dan komunikasi dapat berjalan lebih optimal dan setara denga wilayah pusat.(as)
Editor: yn
