Guru Besar FKM UNAND: Status Gizi Perempuan Sebelum dan Selama Hamil Jadi Faktor Penentu Kualitas Kesehatan Generasi Mendatang

PROKEPRI.COM, PADANG – Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas (UNAND), Prof. Dr. Azrimaidaliza, S.K.M., M.K.M., mengungkapkan bahwa status gizi perempuan sebelum dan selama kehamilan menjadi faktor penentu kualitas kesehatan generasi mendatang.
“Upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting harus dimulai jauh sebelum kehamilan, yakni sejak masa remaja,”kata Azrimaidaliza dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi triple burden of malnutrition, yakni stunting, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas. Kondisi tersebut, menurut Azrimaidaliza, menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan kekurangan asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan sepanjang siklus kehidupan.
“Perempuan yang memasuki masa kehamilan dengan kondisi gizi baik memiliki peluang lebih besar melahirkan bayi dengan status gizi optimal, sedangkan kekurangan gizi sejak remaja dapat meningkatkan risiko anemia, Kurang Energi Kronis (KEK), bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga stunting yang berlanjut pada generasi berikutnya,”ungkapnya.
Azrimaidaliza menerangkan, permasalahan gizi pada ibu tidak terjadi secara tiba-tiba ketika hamil, melainkan merupakan akumulasi berbagai faktor sejak usia remaja. Pola makan yang kurang sehat, rendahnya aktivitas fisik yang seimbang, pengaruh media sosial, lingkungan keluarga, hingga minimnya pemahaman mengenai gizi menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
“Oleh karena itu, intervensi perbaikan gizi harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor,”papar dia.
Berdasarkan hasil riset yang ditelitinya, sekitar sepertiga remaja putri di salah satu wilayah Sumatera Barat masih mengalami gizi kurang, dengan hampir 20 persen memiliki asupan protein yang tidak mencukupi. Kondisi ini berpotensi berlanjut hingga masa kehamilan apabila tidak segera ditangani, sehingga memperbesar risiko terjadinya masalah kesehatan pada ibu maupun bayi.
Azrimaidaliza juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan energi dan protein selama kehamilan. Hasil penelitian kohort yang dilakukannya menunjukkan bahwa ibu hamil dengan asupan energi kurang dari 1.800 kkal per hari memiliki risiko 1,7 kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat lahir di bawah 3 kilogram.
Sementara itu, asupan protein kurang dari 65 gram per hari meningkatkan risiko hingga 3,6 kali melahirkan bayi dengan panjang lahir di bawah 48 sentimeter.”Selain faktor individu, ketahanan pangan keluarga juga menjadi penentu penting dalam pemenuhan gizi ibu hamil,”jelasnya lagi.
Penelitian yang dilakukan di Pesisir Selatan menunjukkan lebih dari separuh ibu hamil berada pada kondisi rawan pangan, yang erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi keluarga. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko anemia dan KEK pada ibu hamil serta berdampak pada kualitas kesehatan bayi yang dilahirkan.
Azrimaidaliza menekankan bahwa investasi terbaik dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah memastikan perempuan memasuki masa kehamilan dengan status gizi yang baik.
“Perbaikan gizi sejak remaja hingga masa kehamilan menjadi strategi penting untuk memutus rantai masalah gizi antargenerasi sekaligus mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tumbuh optimal, dan bebas stunting sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045,”pungkasnya.(i)
Editor: yn
