Pesta Olahraga di Balik Sunyi: Menakar Kesiapan Tanjungpinang Hadapi Porprov Kepri 2026 yang Minim Publikasi
Oleh: Rodi Yandri, CEO sekaligus pendiri media Prokepri

PROKEPRI.COM, OPINI – Kota Tanjungpinang kini tengah bersiap mengemban tanggung jawab besar sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepulauan Riau (Kepri) VI Tahun 2026.
Pesta olahraga multi-cabang terbesar di tingkat provinsi ini dijadwalkan berlangsung pada 1 hingga 8 November 2026 dengan memperebutkan ratusan medali.
Sebagai kota yang sudah lima kali berturut-turut harus puas di posisi runner-up, ajang kali ini diusung sebagai momentum emas untuk memutus tren tersebut dan merebut gelar juara umum di rumah sendiri.
Namun, di balik optimisme dan gemuruh persiapan teknis para atlet di training center, ada satu ironi yang terasa nyata di tengah masyarakat, minimnya publikasi. Halaman-halaman media sosial, sudut-sudut jalanan kota, hingga ruang diskusi publik di Tanjungpinang masih terasa sepi dari euforia menyambut obor Porprov.
Ajang sebesar ini seolah bergerak dalam senyap, jauh dari ingar-bingar promosi yang semestinya mampu membakar semangat warga lokal.
Minimnya gaung informasi ini tidak lepas dari realitas di lapangan. Panitia Besar (PB) Porprov dan Pemerintah Kota Tanjungpinang harus dihadapkan pada tantangan klasik, yakni keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi.
Anggaran yang mengetat memaksa penyelenggara memprioritaskan pemenuhan kebutuhan vital pertandingan, mulai dari sewa venue, keamanan, hingga keselamatan atlet. Alhasil, pos anggaran untuk promosi massal dan publikasi kreatif harus terpangkas demi memastikan roda kompetisi tetap bisa berputar. Dampak lainnya pun terlihat dari penurunan jumlah cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan akibat kendala kesiapan kepengurusan daerah.
Dampaknya, antusiasme masyarakat umum terancam tidak terbangun secara maksimal. Padahal, esensi dari menjadi tuan rumah bukan hanya sekadar sukses menyelenggarakan pertandingan di dalam stadion, melainkan juga menghadirkan perputaran ekonomi bagi pelaku UMKM lokal dan menciptakan kebanggaan daerah.
Ketika masyarakat tidak mengetahui kapan dan di mana cabor favorit mereka bertanding, tribun penonton terancam sepi, dan dukungan moril bagi atlet Tanjungpinang yang sedang berjuang pun berpotensi mengendur.
Meskipun bergerak dalam sunyi publikasi, semangat para atlet dan pengurus cabor tidak boleh padam. Ajang ini tetap menjadi panggung pembuktian bagi 2.038 atlet se-Kepri yang telah lolos verifikasi. Keterbatasan baliho di jalanan atau sepinya iklan digital harus dijawab dengan prestasi yang lantang di arena pertandingan.
Sekarang, tugas berat berada di pundak komunitas, media lokal, dan masyarakat yang peduli untuk swadaya menyebarkan informasi demi menyukseskan Porprov Kepri VI di Kota Gurindam.
Jangan sampai keterbatasan anggaran membuat pesta olahraga ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam bagi warga Tanjungpinang.***
