Kiai Ni’am Mengingatkan: Kesombongan Adalah Tiket Tercepat Menuju Kejatuhan

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Sifat kesombongan, baik yang lahir dari kekayaan, kekuasaan, kepintaran, maupun keunggulan fisik, pada akhirnya hanya akan menjadi sarana kejatuhan bagi manusia itu sendiri.
Peringatan keras ini disampaikan oleh Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. KH. Asrorun Niam Sholeh saat mengisi pengajian rutin mingguan untuk membedah Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani.
Pengajian yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren An-Nahdlah ini berlangsung secara hibrida pada Sabtu (7/11/2026) kemaren, dihadiri secara langsung oleh para santri serta diikuti secara antusias oleh ribuan jamaah dari berbagai pelosok nusantara melalui Zoom.
Di tengah dunia yang sering kali mengukur martabat dari apa yang tampak, manusia kerap terjebak dalam rasa hebat.
Prof. Niam menjelaskan bahwa sikap meninggikan diri merupakan sebuah anomali dalam kehidupan spiritual. Apa yang dianggap sebagai puncak kejayaan—baik itu tumpukan harta atau takhta kekuasaan justru bisa berubah menjadi lubang kehancuran ketika pondasi kerendahan hati runtuh.
Menurutnya, iman yang sejati tidak berjalan beriringan dengan keangkuhan. Sebaliknya, keimanan yang kokoh selalu diiringi oleh ketundukan jiwa. Merasa paling pintar atau paling sempurna secara fisik hanya akan menjauhkan seseorang dari hakikat kebenaran.
Melalui pengingat ini, Prof. Niam mengajak setiap individu untuk berkaca, bahwa segala keunggulan di dunia hanyalah titipan, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari sesama.
Ia menguraikan dialog antara Rasulullah SAW dan para sahabat mengenai penanda keimanan seseorang. Ketika Rasulullah bertanya tentang tanda-tanda keimanan yang benar, para sahabat menjawab dengan tiga hal utama, yakni bersabar atas ujian, bersyukur atas kenikmatan, serta rida dengan ketetapan Allah SWT.
Saat membahas poin kedua mengenai rasa syukur atas kelapangan hidup, Prof Niam mengingatkan agar kenikmatan berupa harta, kesehatan, dan kemudahan tidak disikapi dengan kesombongan.
”Bukan tepuk dada. Ah, ini karena kerja keras saya, karena kehebatan saya, karena saya pintar memang, oh karena saya kaya, makanya kamu harus tunduk pada saya, oh karena saya kuasa,” ujar Kiai Ni’am dilansir mui.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini menekankan bahwa sikap menyombongkan keunggulan diri, seperti kekayaan, kekuasaan, kepintaran, atau paras yang menarik, merupakan bentuk ketidakpahaman atas hakikat karunia.
Menurutnya, sunnatullah telah menetapkan hukum alam dan spiritual yang pasti bagi setiap manusia: barang siapa yang meninggikan diri atau sombong, maka Allah SWT akan menjatuhkan derajatnya. Sebaliknya, orang yang senantiasa tawaduk atau rendah hati akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.
”Jadi kalau ada orang merendahkan diri, Allah akan angkat derajatnya. Tapi kalau seseorang itu meninggikan diri, Allah akan jatuhkan, nah kira-kira begitu, itu sudah sunnatullah-nya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Guru Besar Bidang Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakart ini menjelaskan bahwa sifat sombong sering kali muncul ketika seseorang mendapatkan kelapangan hidup, baik berupa kedudukan, fasilitas teknologi, maupun kekuatan finansial.
Dia menegaskan, merasa diri paling digdaya hingga merendahkan pihak lain adalah bentuk kesombongan yang justru mengikis nilai-nilai keimanan yang dibangun di atas fondasi sabar dan syukur.
Prof Niam mengajak seluruh santri dan jamaah untuk senantiasa mawas diri, menjaga hati dari sifat takabur, serta menjadikan kerendahan hati sebagai landasan utama dalam berinteraksi sosial di tengah masyarakat.
Editor: yn
