OPINI

Belajar Kehidupan Berbangsa dari Sepak Bola

Oleh: Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd., Kasi PAPKI Kantor Kemenag Kabupaten Tanggamus

Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd., Foto kmng

PROKEPRI.COM, OPINI – Saya tidak menyangka akan belajar sesuatu tentang kehidupan berbangsa dari sebuah pertandingan sepak bola. Ketika para pemain Spanyol saling berpelukan setelah memastikan diri menjadi juara Piala Dunia 2026, saya tidak hanya melihat sebuah tim yang menang. Saya melihat bagaimana disiplin, kesabaran, rasa saling percaya, dan kemampuan mengendalikan ego dapat mengubah sebelas orang menjadi kekuatan yang sulit dikalahkan.

Menurut saya, keberhasilan Spanyol bukan semata-mata karena kualitas individu para pemainnya. Mereka datang dengan sistem permainan yang matang dan dijalankan dengan penuh disiplin. Tidak ada pemain yang merasa lebih besar daripada tim. Setiap orang memahami tugasnya, saling menutup kekurangan, dan tetap percaya kepada strategi yang telah disiapkan sejak awal.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah keberanian mereka mempercayai sistem. Kesempatan bermain diberikan kepada pemain yang paling siap menjalankan peran, bukan sekadar kepada nama yang paling terkenal. Dalam sepak bola, sikap seperti ini melahirkan meritokrasi. Bagi saya, pelajaran tersebut juga penting dalam kehidupan berbangsa. Kemajuan akan lebih mudah dicapai apabila setiap orang diberi kesempatan berdasarkan kemampuan, integritas, dan tanggung jawab.

Saya juga melihat satu hal yang tidak kalah penting, yaitu kesabaran. Final Piala Dunia selalu dipenuhi tekanan, adu mental, dan perang psikologis. Namun Spanyol tidak kehilangan kendali. Mereka tidak terburu-buru ketika belum mencetak gol dan tidak membiarkan provokasi mengubah cara bermain mereka. Mereka memilih tetap tenang, menjaga ritme permainan, dan menunggu momentum yang tepat. Dari sana saya belajar bahwa kesabaran bukan berarti pasif, melainkan kemampuan menjaga fokus ketika keadaan sedang tidak berpihak.

Pelajaran itu membawa pikiran saya kepada Indonesia. Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, masyarakat yang majemuk, dan banyak anak bangsa yang berbakat. Namun, kita masih sering kehilangan energi karena terlalu sibuk memperdebatkan perbedaan. Di ruang publik maupun media sosial, provokasi sering kali lebih cepat menyebar daripada semangat untuk bekerja sama. Padahal, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak memiliki perbedaan, melainkan bangsa yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan.

Sebagai seorang Muslim, saya teringat firman Allah Swt., “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh” (QS. As-Saff [61]: 4). Bagi saya, ayat ini tidak hanya berbicara tentang perjuangan, tetapi juga mengajarkan pentingnya disiplin, kerja sama, dan kesediaan setiap orang menjalankan amanahnya dalam satu tujuan.

Saya kemudian teringat pemikiran almarhum Buya Ahmad Syafii Maarif dalam Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Beliau mengingatkan bahwa agama semestinya menjadi kekuatan moral yang mempererat persaudaraan dan memperkuat kebangsaan. Nilai-nilai keislaman seharusnya mendorong lahirnya keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab bersama, bukan memperlebar jarak di antara sesama anak bangsa.

Hal yang sama juga dijelaskan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa bertumpu pada kuatnya solidaritas sosial (‘ashabiyah). Sebuah masyarakat akan berkembang apabila warganya memiliki rasa saling percaya dan bersedia mendahulukan kepentingan bersama. Sebaliknya, ketika ego pribadi dan kelompok lebih dominan, kekuatan bangsa perlahan akan melemah.

Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa orang-orang beriman bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain (HR. al-Bukhari dan Muslim). Saya melihat gambaran itu pada permainan Spanyol sepanjang turnamen. Mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan individu, tetapi membangun kekuatan melalui kerja sama yang saling menopang.

Saya tentu tidak berharap Indonesia meniru gaya bermain Spanyol. Namun saya berharap kita belajar dari nilai-nilai yang membawa mereka menjadi juara. Disiplin, meritokrasi, kesabaran menghadapi tekanan, kemampuan menahan diri dari provokasi, dan kepercayaan kepada sesama merupakan modal yang juga dibutuhkan untuk membangun bangsa. Sebab, pada akhirnya kemenangan terbesar sebuah bangsa bukanlah ketika mampu mengalahkan bangsa lain, melainkan ketika berhasil mengalahkan ego yang memecah belah bangsanya sendiri.***

Back to top button