KAMPUS

Dosen Biologi UGM Ungkap Kenapa Indonesia Impor Serum Antibisa Ular Padahal Bisa Dibuat Sendiri

Ular kobra Jawa atau Naja_sputatrix. Foto dok wikipedia

PROKEPRI.COM, YOGYAKARTA – Dosen Biologi UGM sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc., mengungkapkan kenapa Indonesia masih mengimpor serum antibisa ular, padahal bisa dibuat sendiri.

Alasannya, menurut dia, karena minimnya dukungan dari pemerintah, terutama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait pengembangan dan produksi serum antibisa tersebut.

“Jadi kenapa kita impor, karena kita tidak punya support atau dukungan dari negara untuk bisa membuat atau memproduksi sendiri,”kata Donan dalam keterangannya dilansir UGM, Minggu (10/5/2026).

Dia menjelaskan bahwa sebenarnya serum antibisa bisa dibuat sendiri dengan bahan-bahan lokal. Akan tetapi, beberapa permasalahan seperti soal ⁠finansial dan fasilitas penelitian dan pengembangan antibisa yang minim atau sulitnya lokasi guna mendapatkan sampel ular berbisa hidup untuk diambil venomnya.

“Kita punya kemampuannya, cuma masalahnya dari support dari pemerintah yang kira-kira belum ada. Terutama untuk anggaran Research and Development,” ungkap Donan.

Meski antibisa ular sebenarnya bisa dibuat agar bersifat universal, tetapi untuk di Indonesia hal tersebut belum dikembangkan dan diteliti lebih lanjut. Selain biaya tinggi untuk penelitian dan pengembangan, anti bisa ular konvensional baru mulai dikembangkan beberapa tahun ini di tingkat global.

Donan menjelaskan, antibisa ular “universal” juga membutuhkan keilmuan serta ahli. Ditambah, belum banyak ahli snake-venom di Indonesia.

“Sebenarnya untuk tiga spesies ular berbeda itu menjadi satu antibisa yang sama,” ungkapnya.

Selain masalah finansial, tantangan lain terkait produksi serum antibisa ular ini terletak pada jumlah ular berbisa endemik Indonesia yang cukup banyak dan tersebar di berbagai pulau seperti Nusa Tenggara Barat dan Timur, Maluku serta Papua.

Banyaknya pulau-pulau tersebut yang menyebabkan sulitnya mendapatkan sampel ular berbisa hidup dengan jumlah cukup untuk diambil venomnya, termasuk lokasi remote yang sulit dijangkau.

Disamping, spesifikasi venom yang berbeda antar spesies ular dan keterisolasian secara geografis turut menjadi tantangan bagi para peneliti. Ditambah, fasilitas snakefarm yang belum terstandarisasi dengan baik dari segi pemeliharaan, animal welfare dan proses milking hingga penyimpanan.

“Harus ada standarisasi untuk pemeliharaan. Jadi, jangan hanya dipelihara aja, tapi ada animal welfare-nya,” paparnya.

Donan menyampaikan pendapat agar serum antibisa di Indonesia tidak hanya bergantung pada impor bisa dimulai dengan inventarisasi atau identifikasi jenis-jenis ular berbisa di Indonesia secara lengkap atau menyeluruh dan melakukan penelitian karakterisasi venom dari semua ular terutama jenis-jenis yang endemik.

Selanjutnya dukungan pemerintah melalui ⁠insentif riset bagi lembaga penelitian maupun pendidikan. Hal tersebut menyasar pada institusi yang telah mampu mengembangkan serum antibisa ular terutama jenis-jenis ular lokal dan endemik.Tidak hanya cukup sampai di situ, ⁠koordinasi dan dukungan antar lembaga pemerintah seperti Kemenkes, BPOM, PT Bio Farma, BRIN dan Universitas dalam kolaborasi riset, produksi dan distribusi antibisa ular.

“Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan snake farm yang terstandarisasi di daerah-daerah terutama yang memiliki keanekaragaman ular berbisa tinggi,” pungkasnya.

Berdasarkan laporan dari Indonesia Toxinology Society, kasus gigitan ular masih menjadi masalah serius di Indonesia.

Pada tahun 2024, terdapat 9.878 kasus gigitan ular di Indonesia, dimana 54 korban gigitan ular berbisa meninggal dunia.

Bahkan hingga Oktober tahun 2025 lalu, terdapat 8.721 kasus gigitan ular dengan sebanyak 25 orang yang meninggal.

Untuk mengobati korban gigitan ular masih terhambat keterbatasan stok antibisa bagi beragam jenis ular berbisa. Padahal sekitar 10 persen spesies ular berbisa di dunia berada Indonesia.

Sedangkan Indonesia baru bisa menyediakan serum antibisa untuk tiga spesies ular, yaitu kobra jawa, ular tanah, dan welang.

Serum antibisa ini masih bergantung secara penuh pada impor, dengan Australia sebagai pemasok. utama.(i)

Editor: yn

Back to top button