
PROKEPRI.COM, CERITA – Rumah itu masih seperti dulu. Beratap seng, berdinding setengah papan dan berlantai plester semen. Di rumah itulah pertama kali saya tinggal ketika mengawali perjalanan hidup saya di Tanjungpinang tahun 1999.
Rumah yang posisinya persih di pinggir parit tepi jalan di Kampung Jawa ini merupakan rumah dinas bagi pegawai rumah tahanan (Rutan). Rumah tersebut ditinggali Pak Bambang Pitoyo dan keluarga. Saat itu jabatan beliau kalau tidak salah Kepala Bagian Pembinaan Narapidana Rutan Kampung Jawa.
Kurang lebih empat bulan saya tinggal di rumah ini. Karena hidup menumpang di rumah orang, saya tahu diri harus berbuat apa.
Setiap pagi saya bangun lebih awal. Seusai sholat subuh saya menyapu halaman, lantai rumah dan mengepel. Setelah itu mencuci baju dan kadang menghantar Bu Bambang belanja di pasar.
Pukul setengah tujuh pagi kemudian antar anak-anak Pak Bambang sekolah. Saya masih ingat nama anak-anaknya: Dani, Dewi, Dina dan Dimas.
Dina dan Dimas yang sering saya antar ke sekolah. Karena saat itu Dina masih kelas dua SD di Jalan Bali dan Dimas di TK belakang SMA 5 Tanjungpinang.
Ketika mengantar anak-anak sekolah itu saya telusuri jalan dan lorong di Kampung Jawa sebelum akhirnya tembus di Jalan Sumatera untuk seterusnya ke Jalan Bali dan TK dekat SMA 5. Tidak jarang juga saya menunggu
Dimas di sekolah sampai jam sekolah usai untuk diantar pulang.
Setelah sebulan di rumah itu oleh Pak Bambang dikenalkan dengan Pak Anung, seorang pegawai Imigrasi yang berkantor di Pelabuhan Sri Bintan Pura.
Dari perkenalan itu saya diminta oleh Pak Anung untuk membantunya di kantor. Tugas saya antar surat dan mengcopy paspor bagi orang yang datang dan pergi dari serta ke luar negeri. Satu hari kadang dikasih Rp 100 ribu kadang ya Rp 150 ribu. Uang segitu di jaman itu sudah cukup besar.
Dalam batin saya ketika melihat kesibukan di pelabuhan dan banyaknya orang yang keluar masuk Tanjungpinang mengatakan, ini kota kecil tapi perputaran uangnya cukup besar.
Karena itu saya tetap bertahan sambil membantu keluarga Pak Bambang di rumah.
Tidak lama kemudian Pak Bambang mencarikan pekerjaan saya di Hotel Rasa Yakin (Hotel Plaza -sekarang). Hotel ini di kawasan Bintan Plaza kilometer 2 Tanjungpinang.
Karena masih menjadi seorang peristis, awal-awal kerja saya jalan kaki lewat Bukit Cermin lalu tembus Jalan Kamboja lalu jalan terus ke Bintan Plaza.
Tahun 2000 saya nikah dan sempat bulan madu di kamar belakang yang bercat biru itu.
Tapi tidak lama kemudian saya dan istri pamitan dan ngontrak di Bukit Cermin.
Untuk sementara itu dulu karena kalau diteruskan tak cukup halaman untuk menuliskan semua kisah saya selama di Tanjungpinang.***
