OPINI

Nilai Keagamaan dan Tata Kelola Modern

Oleh: Andriandi Daulay, Analis Kepegawaian Madya Kanwil Kemenag Provinsi Riau

Ilustrasi SIM SDM. Foto mas-software

PROKEPRI.COM, OPINI – Kementerian Agama tengah berada pada titik balik transformasi yang signifikan. Menyambut Renstra 2025-2029, kemenag tidak hanya sekadar mengejar target administratif, melainkan melakukan perubahan fundamental dalam tiga pilar utama: sistem, sumber daya manusia, dan budaya kerja. Menarik untuk kita ketahui, transformasi ini tidak berjalan dalam sekat-sekat birokrasi yang kaku, tetapi justru mengedepankan pendekatan manusiawi yang memadukan nilai-nilai keagamaan dengan tata kelola modern.

Peluncuran Sistem Informasi Manajemen SDM (SIM SDM) pada Oktober 2025 menjadi penanda era baru. Sistem ini tidak hanya menggantikan SIMPEG lama, tetapi terintegrasi dengan Pusaka Super App yang memungkinkan layanan kepegawaian lebih cepat dan responsif. Inilah wajah baru Kemenag: sebuah institusi yang menghargai warisan nilai-nilai luhur, sekaligus berani melompat ke depan dengan adopsi teknologi terkini.

Strategi Pembangunan Sistem

Renstra 2025-2029 mengusung visi yang jelas: terwujudnya masyarakat Indonesia yang rukun, sejahtera, dan cerdas dalam beragama. Untuk mencapai ini, Kemenag membangun sistem yang tidak hanya solid secara teknis, tetapi juga mudah diakses oleh masyarakat.

Transformasi digital menjadi tulang punggung strategi ini. Target peningkatan indeks layanan keagamaan dari 86,51 menjadi 88,62 pada 2029 bukan sekadar angka di atas kertas. Di baliknya, ada upaya nyata revitalisasi Kantor Urusan Agama (KUA) menjadi pusat layanan yang modern dan akuntabel. Digitalisasi proses seperti pernikahan, sertifikasi halal, dan bimbingan haji menunjukkan komitmen untuk memangkas birokrasi yang berbelit.

Yang patut diapresiasi, pendekatan ini selaras dengan RPJMN 2025-2029 dan Asta Cita Presiden. Integrasi dengan agenda nasional ini memastikan bahwa transformasi di Kemenag tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari gerakan reformasi birokrasi yang lebih besar.

Menyiapkan ASN yang Adaptif dan Berkarakter

Roadmap manajemen talenta 2024-2029 menjadi bukti keseriusan Kemenag dalam membangun sumber daya manusia. Strategi ini tidak hanya fokus pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga pembentukan karakter ASN yang inovatif dan berintegritas.

Program mobilitas talenta memungkinkan pegawai untuk berkembang di berbagai lini organisasi. Konsep “digital by default” bukan sekadar jargon, tetapi menjadi cara berpikir baru dalam setiap pengambilan keputusan. Peningkatan gaji ASN guru agama dan sistem pemenuhan jabatan berbasis kompetensi menunjukkan penghargaan yang nyata terhadap profesionalisme.

Yang menarik, pendekatan pengembangan SDM ini tidak menghilangkan unsur kemanusiaan. Pelatihan masif justru diimbangi dengan pendampingan berkelanjutan, mengakui bahwa perubahan membutuhkan proses dan empati.

Integrasi Budaya Moderat

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, Kemenag mengambil peran strategis dengan mengintegrasikan nilai moderasi beragama dalam setiap programnya. Target peningkatan indeks kerukunan umat beragama dari 76,47 menjadi 78,25 bukan tujuan akhir, melainkan indikator dari upaya yang lebih mendalam.

Program seperti Sannipata Nusantara 2025 dan eco-theology menunjukkan pendekatan yang segar. Alih-alih terjebak dalam retorika, Kemenag memilih aksi nyata yang menyentuh akar persoalan. Kolaborasi antar agama tidak lagi sekadar seremonial, tetapi menjadi ruang belajar bersama untuk memahami perbedaan.

Konsep eco-theology khususnya menarik, karena memadukan spiritualitas, kearifan lokal, dan kepedulian lingkungan. Pendekatan ini membuktikan bahwa agama bukan penghalang, melainkan mitra dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Sinergi Tiga Pilar: Sistem, Manusia, dan Budaya

Ketiga elemen ini saling terkait erat. Sistem yang baik akan sulit berjalan tanpa dukungan manusia yang kompeten. Manusia yang hebat tidak akan optimal tanpa budaya kerja yang mendukung. Dan budaya hanya akan hidup ketika diwujudkan dalam sistem dan perilaku sehari-hari.

Contoh nyata terlihat dalam implementasi Zona Integritas. Penyusunan SOP berbasis proses bisnis, sistem pengendalian gratifikasi, dan Whistleblowing System (WISE) menunjukkan komitmen membangun sistem yang akuntabel. Sementara itu, program pembinaan berjenjang dan peran agen perubahan membuktikan perhatian pada aspek manusia.

Yang tidak kalah penting, budaya kerja PATEN (Profesional, Akurat, Tuntas, Efisien, Niat Tulus) dan nilai-nilai BERAKHLAK menjadi jiwa yang menghidupkan sistem dan mengarahkan perilaku manusia.

Tantangan dan Peluang Ke Depan

Meski telah menunjukkan kemajuan, beberapa tantangan masih perlu diatasi. Resistensi terhadap perubahan, kesenjangan infrastruktur teknologi, dan kebutuhan evaluasi berkelanjutan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Namun, peluang justru terbuka lebar. Generasi milenial di Kemenag telah menunjukkan kontribusi melalui inovasi seperti “Ngobrol Rekan Kepegawaian (Ngoprek)” yang menghadirkan komunikasi lebih cair dan demokratis. Kolaborasi dengan pemangku kepentingan, seperti kerja sama dengan PT Taspen dan Asabri, membuktikan bahwa transformasi tidak bisa dilakukan sendirian.

Perjalanan transformasi Kemenag 2025-2029 ibarat membangun rumah yang kokoh. Sistem adalah fondasinya, SDM adalah tiang-tiang penopang, dan budaya adalah atap yang melindungi. Ketiganya harus seimbang dan saling memperkuat.

Yang patut dibanggakan, transformasi ini tidak kehilangan jiwa. Di balik semua digitalisasi dan modernisasi, nilai-nilai keagamaan tetap menjadi kompas. Moderasi beragama tidak dilihat sebagai peleburan identitas, melainkan sebagai jalan untuk saling menghargai dalam perbedaan.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi Kemenag tidak hanya diukur dari angka-angka dalam Renstra, tetapi dari seberapa besar dampaknya dirasakan masyarakat. Seberapa mudah umat beragama menjalankan ibadahnya, seberapa adil layanan yang diberikan, dan seberapa rukun kehidupan beragama di negeri ini.***

Back to top button