OPINI

Ketika Langkah Menjadi Sejarah

Oleh: Robby Patria, dosen Sejarah di FKIP UMRAH

Robby Patria bersama Huzrin Hood. Foto dok RP

PROKEPRI.COM, OPINI – Tokoh penting pembentukan Provinsi Kepulauan Riau Huzrin Hood berkorban lebih besar bukan sekedar materi, tapi tubuhnya harus mendekam di dinginnya sel Sukamiskin karena memperjuangkan Kepri berpisah dari Provinsi Riau.

Dan kisah kisah perjuangan pembentukan Provinsi Kepri itu kini bisa dibaca di sebuah buku Biografi dengan judul Ketika Langkah Menjadi Sejarah. Buku setebal 429 halaman dengan referensi itu memuat banyak kisah menarik selama hidup Huzrin Hood yang kini berusia 70 tahun.

Bagi anak anak Gen Z yang tidak paham bagaimana provinsi ini dibuat, maka wajiblah kiranya untuk membaca kisah Robin Hood dari Kundur di dalam buku tersebut.

Saya menyaksikan peluncuran bukunya sampai selesai di Gedung LAM Kepri dan mendengarkan kesaksian Muchdi PR seorang petinggi TNI aktif ketika perjuangan Datuk Huzrin Hood dan kawan kawan memisahkan Kepri dari Riau.

Dan menyaksikan secara langsung ucapan dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara, Hendropriono yang menjadi saksi sejarah bagaimana sosok Huzrin Hood berjuang.

Wajarlah jika usia Kepri saat ini memasuki 24 tahun, masih banyak persoalan ketimpangan hidup, kesejahteraan masyarakat, masih jauh dari harapan tujuan pembentukan Provinsi, Huzrin selalu marah dan kecewa.

Termasuk ketika Kepri harus meminjam duit ke Bank BJB hanya demi membangun monumen bahasa di Penyengat dan klinik di RSUP.

Karena usia 24 tahun itu sudah dewasa sudah bisa berjalan sendiri dan menentukan nasib mau dibawa ke mana Kepri. “Pinjaman riba untuk pembangunan,” Huzrin berkelakar di kedai kopi.

Bukan malah menjadi provinsi yang miskin secara fiskal dan harus meminjam hanya untuk menormalkan arus kas keuangan demi pembangunan yang tak terlalu penting.

Datok Huzrin juga dalam buku tersebut menulis kisah bagaimana Ia “ditikam”dari belakang. Walaupun ditulis dengan bahasa yang samar. Inilah saya kira buku biografi yang masih malu malu untuk terbuka kepada publik.

Dan setiap buku biografi memang terkadang masih malu malu untuk menceritakan secara detil. Mungkin banyak perasaan yang harus dijaga.

Apalagi usia 70 tahun membuat sang pelopor berkurang keberanian. Ia lebih banyak kegiatan dari masjid ke masjid bersama jamaah tabligh. “Datuk memang tak sekuat dan seberani dulu lagi. Kita juga maklum,” kata pengikut setianya.

Membaca buku Ketika Langkah Menjadi Sejarah memang menarik bagi mereka yang ingin dekat sejarah. Harusnya buku ini menjadi koleksi di sekolah sekolah di Kepri pustaka pustaka masjid agar masyarakat Kepri dapat mengambil pelajaran.

Bukan hanya era zaman Sultan Malaka, Sultan Johor, Sultan Riau Lingga yang berkonflik hingga berdarah darah, Bumi Melayu era tahun 2000 pun penuh konflik dan tipu muslihat yang luar biasa dasyat. Tak ada dalam kisah sinetron zaman sekarang.

Karena betapa ruginya kita ketika tidak tahu di mana kita berasal dan bagaimana sejarah provinsi ini berdiri bukan pemberian dari Riau tapi penuh dengan tetesan air mata, tragedi penculikan seorang wakil gubernur, ledakan bom, demonstrasi, hingga fitnah memfitnah yang berujung masuknya seorang pejuang di dalam penjara selama 2 tahun.

Dan itu saja tak cukup. Kalau ada sosok yang keluar dari penjara disambut seperti pahlawan, itulah Huzrin Hood.

Di Karimun, mantan jaksa yang menuntut Huzrin di persidangan di Kaca Puri waktu itu datang menemuinya dan minta maaf.

Sosok pejuang dari Sei Ungar, Kundur itu memang memiliki jejak rekam langkah yang menjadi sejarah sesuai dengan judul bukunya.

Huzrin tahu, kondisi masyarakat Kepri hari ini lebih banyak anak anak muda yang lahir ketika Kepri sudah menjadi provinsi.

Sehingga ketika dia mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI tak mencukupi untuk mengantarkan dirinya berkantor ke Senayan.

Namun bagi mereka yang berusaha 40-70 tahun, dan mereka yang tahu sejarah, nama Huzrin Hood akan terus dikenang dan melekat dalam sanubari sebagai sosok pejuang pembentukan Provinsi Kepri.

Dan belum ada yang menyaingi pengorbanan seorang Huzrin demi kepentingan orang ramai hingga saat ini.

Ketika ada kesempatan berbincang dengannya, saya selalu mengingatkan. “Datuk harus paling depan bersuara jika melihat penyimpangan kekuasaan karena Datuk adalah orang yang paling berjasa hadirnya Provinsi ini. Dan mereka yang duduk di kursi kekuasaan harusnya mendengarkan nasihatnya bukan malah mendiamkan.”

Selamat ulang tahun Sang Tokoh. Saya ingat betul di era tahun 99, kami perwakilan OSIS SMA2 Tanjungpinang diundang ke salah satu acara dan sosok berjenggot tebal itu berpidato. “Saya pernah jadi guru, lalu jadi anggota DPRD.”

Ternyata itulah sosok penting di kemudian hari menjadikan Kepri provinsi.***

Back to top button