Kolaborasi Riset UPNYK-PT Bukit Asam: Kaliandra Merah, Solusi Energi Bersih Terbarukan

PROKEPRI.COM, YOGYAKARTA – Tanaman Kaliandra Merah digadang-gadang menjadi salah satu alternatif solusi energi bersih terbarukan dalam mendukung Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Riset tersebut merupakan sinergi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNYK) dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
Ketua Senat sekaligus Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nurcholis, M.Agr, menyampaikan bahwa Kaliandra Merah memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan, khususnya untuk bahan baku wood pellet (pelet kayu).
“Kaliandra Merah merupakan tanaman yang adaptif dan mampu tumbuh di lahan marjinal. Dengan pengelolaan yang tepat, tanaman ini dapat menjadi sumber energi biomassa berkelanjutan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Prof. Nur Cholis dalam keterangan dilansir UPNYK, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, Kaliandra Merah memiliki keunggulan berupa masa panen awal sekitar dua tahun dan dapat dipanen secara berkala setiap tahun melalui sistem regenerasi tunas. Selain itu, tanaman ini memiliki nilai kalor tinggi, yakni lebih dari 4.300 kkal/kg berdasarkan hasil uji PT Sucofindo, sehingga layak dikembangkan sebagai bahan baku energi biomassa.
Selain sebagai sumber energi, Kaliandra Merah juga memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi. Bunganya yang melimpah berpotensi mendukung pengembangan sektor peternakan lebah madu sehingga dapat menciptakan ekosistem usaha berbasis masyarakat.
Kerja sama pengembangan Kaliandra Merah antara UPN “Veteran” Yogyakarta dan PT Bukit Asam telah berlangsung sejak 2019 melalui kajian pra-Feasibility Study (pra-FS). Dalam kajian tersebut, Kaliandra Merah dan Sorgum Manis dikaji sebagai kandidat sumber energi biomassa.
Kolaborasi kembali dilanjutkan pada 2023 melalui kajian Feasibility Study (FS) dengan fokus pengembangan Kaliandra Merah menjadi wood pellet di lahan pra-tambang PT Bukit Asam. Implementasi lapangan kemudian dilakukan melalui kegiatan showcase proyek pada Oktober 2023 sebagai langkah menuju penerapan industri.
Prof. Nur Cholis menjelaskan, pemanfaatan Kaliandra Merah sejalan dengan konsep siklus karbon hijau. Biomassa dari tanaman menyerap karbon dioksida (CO2) melalui fotosintesis, sehingga karbon yang dilepaskan saat dimanfaatkan sebagai energi merupakan bagian dari siklus alami, berbeda dengan emisi dari energi fosil.
“Biomassa memiliki peran penting dalam transisi energi karena memanfaatkan karbon yang berada dalam siklus permukaan, bukan karbon fosil baru dari dalam bumi,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan fasilitas pengolahan biomassa perlu dilakukan dekat dengan sumber budidaya agar lebih efisien dalam menekan biaya logistik dan emisi transportasi. Ke depan, Kaliandra Merah juga berpotensi mendukung ketahanan energi nasional, termasuk untuk pengembangan energi mandiri di wilayah kepulauan.(i)
Editor: yn
