Merajut Silaturahmi di Graha PWI, Menggali Akar Sejarah Melayu di Pulau Penyengat

PROKEPRI.COM, BATAM – Suasana di Graha Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepulauan Riau (Kepri) di Kota Batam, Sabtu (3/10/2025) sore itu, mendadak beralih hangat. Pertemuan antara Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, dengan jajaran pengurus PWI Kepri tidak lagi kaku layaknya agenda formal pemerintahan. Gelak tawa dan candaan mencairkan suasana begitu para kuli tinta mulai memperkenalkan diri satu per satu.
Pertemuan ini menjadi momen penting bagi kedua belah pihak. Di hadapan para pengurus, Ansar Ahmad dengan berjiwa besar menyampaikan permohonan maaf atas miskomunikasi yang sempat terjadi antara Pemerintah Provinsi Kepri dan PWI Kepri.
“Ini ada miskomunikasi. Tidak ada maksud saya untuk tidak mengindahkan. Setelah saya cek, untuk itu saya menugaskan Ibu Sekda Provinsi,” ujar Ansar meluruskan suasana.
Bagi Ansar, media bukan sekadar pengamat, melainkan mitra strategis. Roda pembangunan daerah mustahil berjalan optimal tanpa adanya gaung informasi yang sampai ke telinga masyarakat. Ia menyadari betul bahwa kolaborasi lintas sektor—termasuk merangkul organisasi pers—adalah kunci utama membawa Kepri ke arah yang lebih baik.
Gayung pun bersambut. Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani, menyambut hangat keterbukaan sang gubernur. Baginya, ketukan pintu Ansar di Graha PWI adalah momentum emas untuk menyelaraskan visi demi kemajuan bumi segantang lada ini.
Namun, obrolan sore itu tidak berhenti pada urusan birokrasi dan kemitraan media. Diskusi justru menggelinding jauh lebih dalam, menembus sekat-sekat ruang dan waktu, hingga bermuara pada satu titik, Pulau Penyengat.
Kehadiran Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan, kian menghidupkan obrolan mengenai potensi wisata sejarah dan budaya yang bersemayam di provinsi kepulauan ini.
Bagi Saibansah dan insan pers di Kepri, Pulau Penyengat yang berada di pelukan Kota Tanjungpinang bukanlah sekadar pulau kecil pemuas dahaga wisatawan. Pulau itu adalah jantung pertahanan memori kolektif masyarakat Kepri. Ia merupakan salah satu simpul terpenting dalam linimasa sejarah Melayu.
Mundur ke belakang, Pulau Penyengat pernah berdiri gagah sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat kehidupan intelektual Kesultanan Riau-Lingga. Di atas tanahnya yang tidak seberapa luas, tradisi keilmuan, kesusastraan, dan pemikiran Melayu tumbuh subur dan merajai Nusantara.
Salah satu masterpis yang paling abadi adalah Gurindam Dua Belas karya pujangga besar Raja Ali Haji. Karya monumental ini tidak sekadar menjadi barisan bait puitis, melainkan fondasi penting dalam sejarah perkembangan bahasa, sastra, dan pemikiran Melayu yang kini kita kenal sebagai cikal bakal bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Berangkat dari kesadaran historis itulah, sebuah gagasan besar lahir dari pertemuan hangat ini. PWI Kepri menginisiasi sebuah kunjungan khusus bagi para jurnalis ke Pulau Penyengat. Tujuannya jelas, bukan sekadar melancong, melainkan untuk menyelami kembali kekayaan literasi, budaya, dan sejarah yang sempat meredup, lalu mengabarkannya kembali kepada dunia melalui goresan pena.
Pertemuan di Graha PWI hari itu membuktikan bahwa ketika pembuat kebijakan dan pencatat sejarah duduk bersama, yang lahir bukan sekadar kesepakatan politik, melainkan komitmen untuk merawat peradaban.(yan)
