
PROKEPRI.COM, OPINI – Nepal tiba-tiba menghentak. Bukan oleh gerakan sparatis. Bukan juga kekuatan politisi senior yang ingin merebut kekuasaan.
Nepal terguncang hebat karena anak-anak muda yang amarahnya tak bisa dihadang. Kekuatan mereka menggulung seperti badai laut Antartika. Auman kebrutalannya mengalahkan seribu serigala di Sahara.
Mereka bergerak tanpa komando. Jalanan di Kathmandu dalam sekejap dipenuhi jutaan wajah-wajah segar yang dalam waktu cepat berubah merah garang.
Gedung-gedung pemerintah dibakar. Pejabat-pejabatnya diburu seperti maling ayam. Ada yang digebuk, dikeroyok massa dan yang beruntung kabur dengan pesawat terbang.
Nepal merupakan salah satu negara yang selama ini dikenal aman, damai dan tenteram. Negara tempat kelahiran Sidharta Gautama ini juga dikenal memiliki delapan gunung tertinggi di dunia. Ada Everest, Kangchenjunga, Lhotse, Makalu, Cho Oyu, Dhaulagiri I, Manaslu, dan Annapurna I. Kedelapan puncak ini merupakan bagian dari pegunungan Himalaya dan merupakan gunung-gunung dengan ketinggian di atas 8.000 meter.
Kehidupan masyarakatnya disesuaikan dengan daerahnya yang pegunungan dan tidak memiliki laut. Masyarakat Nepal juga diikat oleh budaya tradisional yang kuat, religiusitas (terutama Hindu dan Buddha), dan sistem sosial berbasis keluarga dan komunitas, meskipun modernisasi dan globalisasi mulai memengaruhinya.
Sektor pertanian tetap dominan di daerah pedesaan, sementara ekonomi juga bergantung pada pariwisata dan remitansi.
Masyarakat Nepal dikenal sangat ramah dan hormat, terutama kepada orang tua dan tamu, namun juga menghadapi tantangan kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, dan masalah kesehatan. Secara umum Nepal damai dengan tingkat kepatuhan masyarakat yang tinggi.
Namun pandangan positif terhadap Nepal pada 8 September 2025 kemarin tiba-tiba runtuh. Puluhan ribu anak muda yang menyebut dirinya Gen Z turun ke jalan.
Mereka melakukan aksi bukan tanpa sebab. Kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan KP Sharma Oli yang membuat anak-anak muda berontak. Mereka bukan mau melakukan revolusi. Mereka ingin ruang kebebasan dan kreativitas tetap dibuka.
Adalah kebijakan KP Sharma Oli yang memblokir semua media sosial di negara yang memiliki bentangan alam yang menakjubkan ini. Akibatnya anak-anak muda tidak bisa lagi bermain di Tik Tok, Istagram, Facebook, Twitter dan media sosial lainnya.
Ruang kreativitas anak-anak muda dikunci habis. Akibatnya hidup mereka bertambah sunyi terkurung oleh bentangan gunung yang mengelilingi negerinya.
Dalam sunyi mereka akhirnya bangkit. Dalam diam Gen Z itu mengumpulkan kekuatan. Puncaknya gelombang aksi puluhan ribu anak muda turun ke jalan yang memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli meletakkan jabatan.
Di era kekinian anak muda ternyata sudah berubah jadi kekuatan baru yang sewaktu-waktu bisa menggetarkan kekuasaan.
Akhirnya dari Nepal kita belajar bahwa Gen Z bukan generasi gamer, pemalas dan kaum rebahan. Mereka telah menjelma jadi kekuatan baru. Sekali bangkit dibuat tumbang semuanya.
Tanjungpinang, 10 September 2025.***
