KEPRI

Otokritik untuk IPSI Kepri: Seni Budaya Pencak Silat Tradisi Dinilai Belum Menjadi Prioritas

Suasana Rakerprov IPSI Kepri II 2026 di Batam, 10 Mei 2026. Foto prokepri/nug

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Di tengah semangat besar menjadikan pencak silat Indonesia menuju panggung olahraga dunia, suara kritis justru muncul dari internal Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Provinsi Kepulauan Riau. Bidang Seni Budaya IPSI Kepri menilai bahwa arah kebijakan organisasi saat ini terlalu berfokus pada olahraga prestasi dan mulai menjauh dari akar utama pencak silat sebagai warisan budaya Melayu.

Pandangan tersebut disampaikan dalam forum pembahasan program kerja IPSI melalui dokumen pandangan umum Bidang Seni Budaya yang secara terbuka mengkritik kecenderungan “sportifikasi” pencak silat di Batam, Minggu (10/5/2026). Dalam dokumen itu disebutkan bahwa orientasi menuju prestasi dan kompetisi global berpotensi mengikis identitas budaya pencak silat tradisional yang selama ini hidup di tengah masyarakat Melayu Kepulauan Riau.

Ketua Bidang Seni Budaya IPSI Kepri, Dicko Asmara, menilai bahwa pencak silat tidak boleh dipahami hanya sebagai cabang olahraga semata. Menurutnya, pencak silat merupakan sistem budaya yang memiliki dimensi spiritual, adat, etika, dan sejarah panjang masyarakat Melayu.

“Pencak Silat merupakan entitas tunggal yang memiliki empat aspek tak terpisahkan: mental spiritual, seni budaya, bela diri, dan olahraga prestasi. Namun arah kebijakan hari ini terlihat sangat condong pada aspek olahraga prestasi,” demikian pandangan umum yang disampaikan Bidang Seni Budaya IPSI Kepri.

Menurut Dicko, kondisi tersebut mulai terlihat dari dominasi program-program organisasi yang berorientasi pada pelatnas, sport science, hingga target Olimpiade, sementara aspek seni budaya hanya menjadi pelengkap seremonial dalam kegiatan organisasi.

Ia menilai, jika kondisi ini terus berlangsung tanpa perhatian serius terhadap pelestarian tradisi, maka IPSI berisiko kehilangan akar budaya yang justru menjadi identitas utama pencak silat di mata dunia.

“Kepulauan Riau memiliki posisi penting sebagai salah satu wilayah budaya Melayu yang menjadi hulu sejarah pencak silat. Jangan sampai daerah ini hanya dijadikan ladang atlet untuk mendulang medali, tetapi kehilangan fungsinya sebagai benteng budaya pencak silat Melayu,” ujarnya dalam keterangan Senin (11/5/2026).

Kritik tersebut bukan tanpa dasar. Dalam laporan Bidang Seni Budaya IPSI Kepri masa bakti 2022–2026, disebutkan bahwa sebagian besar kegiatan pembinaan seni budaya selama ini berjalan dalam kondisi keterbatasan anggaran dan lebih banyak ditopang melalui semangat swadaya, gotong royong, serta kolaborasi bersama komunitas budaya dan lembaga adat.

Berbagai program seperti Festival Silat Serumpun, Workshop Silat Adat Melayu, Dialog Silat Tradisi, hingga kegiatan Kenduri Pendekar Silat Pulau Paku disebut lebih banyak terlaksana melalui dukungan komunitas budaya dibanding dukungan organisasi secara maksimal.

Anggota Bidang Seni Budaya IPSI Kepri sekaligus Ketua Umum Lembaga Pelestari Nilai Adat dan Tradisi Kepri, Yoan S Nugraha, menilai bahwa kondisi tersebut merupakan sinyal bahwa seni budaya pencak silat belum benar-benar ditempatkan sebagai agenda strategis organisasi.

Menurut Yoan, pencak silat tradisi di Kepulauan Riau memiliki kekayaan gerak, filosofi, dan nilai adat yang tidak bisa diseragamkan dengan pendekatan pertandingan modern.

“Program kerja yang ada cenderung melihat seni hanya sebagai objek penilaian skor. Hal ini berisiko mematikan variasi gerak khas dari perguruan-perguruan tradisional di Kepri,” ujarnya mengutip pandangan umum Bidang Seni Budaya.

Ia mencontohkan bahwa silat Melayu di wilayah pesisir Kepulauan Riau memiliki karakter yang berbeda dengan silat daratan. Tradisi seperti Silat, tarung, Silat Pengantin, Silat menyambut tamu, hingga berbagai bentuk silat adat lainnya lahir dari konteks budaya masyarakat pesisir Melayu yang tidak dapat dipaksakan masuk ke dalam standar baku pertandingan nasional.

“Silat tradisi memiliki dialektika gerak dan filosofi yang tumbuh dari kehidupan masyarakat. Ketika semuanya diseragamkan demi kebutuhan kompetisi, maka identitas lokal perlahan akan hilang,” katanya.

Yoan juga menyoroti belum adanya program serius terkait inventarisasi dan pendokumentasian aliran-aliran silat tradisi di pulau-pulau terluar Kepulauan Riau. Padahal menurutnya, dokumentasi budaya merupakan langkah penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya daerah.

“Dalam lampiran bidang seni budaya, belum terlihat adanya program etnografi silat atau pendataan maestro silat tradisi di pulau-pulau terluar Kepri. Tanpa database kearifan lokal, diplomasi internasional yang dicanangkan akan kehilangan jiwa dan hanya menjual teknik fisik tanpa filosofi,” tegasnya.

Pandangan kritis tersebut sekaligus menjadi bentuk otokritik internal terhadap arah pembangunan pencak silat di Kepulauan Riau. Bidang Seni Budaya IPSI Kepri menilai bahwa keberhasilan pencak silat tidak semata-mata diukur dari jumlah medali atau capaian prestasi olahraga, melainkan juga dari kemampuan menjaga kesinambungan budaya dan identitas masyarakat Melayu.

Dalam dokumen pandangan umum itu, Bidang Seni Budaya bahkan mengutip pemikiran ahli bela diri Donald F. Draeger yang menyebut bahwa inti pencak silat bukanlah kompetisi, melainkan pelestarian identitas budaya dan ikatan spiritual antara praktisi dengan warisannya.

Selain itu, konsep “modal budaya” dari sosiolog Pierre Bourdieu juga dijadikan landasan kritik terhadap orientasi organisasi yang dinilai terlalu mengejar simbol prestasi.

“Jika IPSI hanya mengejar modal simbolik berupa medali emas, maka kita akan kehilangan modal budaya asli yang menjadi jati diri bangsa,” demikian isi pandangan tersebut.

Sebagai solusi, Bidang Seni Budaya IPSI Kepri mengusulkan sejumlah program strategis yang dinilai lebih berpihak pada pelestarian budaya. Di antaranya program “Kepri Silat Heritage Mapping” untuk mendata aliran silat tradisi di tujuh kabupaten/kota, rekonstruksi festival silat tradisi berbasis originalitas perguruan, hingga program “Maestro Goes to School” yang membawa guru-guru silat tradisi masuk ke sekolah-sekolah.

Selain itu, mereka juga mengusulkan pengembangan sport tourism berbasis budaya melalui pembangunan “Kampung Silat Tradisi” di wilayah Batam dan Bintan sebagai gerbang budaya Melayu dan destinasi pembelajaran silat tradisional bagi masyarakat internasional.

Bagi Bidang Seni Budaya IPSI Kepri, pencak silat tradisi bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari marwah budaya Melayu yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Pencak Silat tanpa tradisi hanyalah olahraga perkelahian biasa. Namun Pencak Silat dengan tradisi adalah martabat bangsa,” demikian penegasan penutup dalam pandangan umum Bidang Seni Budaya IPSI Kepulauan Riau.

Di tengah arus modernisasi dan ambisi membawa pencak silat menuju Olimpiade, kritik tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan utama pencak silat Indonesia justru terletak pada akar budaya dan keragaman tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Kepulauan Riau, sebagai salah satu wilayah budaya Melayu di gerbang utara Indonesia, kini dihadapkan pada pilihan penting: menjadi sekadar penyumbang atlet prestasi, atau tetap berdiri sebagai penjaga marwah pencak silat tradisi Nusantara.(red)

Back to top button