OPINI

Panggilan Adven: Pertobatan Ekologis

OLeh: Pormadi Simbolon, Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Banten

Pormadi Simbolon. Foto dok

PROKEPRI.COM, OPINI – Umat Katolik seluruh dunia sudah memasuki Masa Adven, masa persiapan Natal atau masa penantian kelahiran Yesus Kristus. Masa Adven bukan sekadar hitungan mundur menuju perayaan Natal. Dalam tradisi Gereja Katolik, Adven adalah masa penantian aktif—masa menyucikan diri, menata relasi, dan membuka ruang batin agar kehadiran Sang Juru Selamat sungguh mengubah cara kita hidup.

Di tengah krisis lingkungan global yang kian nyata, panggilan Adven hari ini tidak dapat dilepaskan dari satu kata kunci penting: pertobatan ekologis.

Tema Adven atau disebut Bulan Keluarga yang dihidupi di Keuskupan Agung Jakarta—keutuhan alam ciptaan, panggilan manusia, kenyataan alam sekitarku, dan pertobatan ekologis—menggarisbawahi bahwa iman Kristiani tidak pernah bersifat ahistoris atau terpisah dari kenyataan konkret. Justru sebaliknya, iman yang matang selalu menyentuh kehidupan sehari-hari, termasuk relasi manusia dengan bumi tempat ia berpijak.

Keutuhan Alam Ciptaan: Iman yang Membumi

Kitab Kejadian dengan jelas menyatakan bahwa alam semesta diciptakan Tuhan sebagai “sungguh amat baik”. Keutuhan ciptaan bukan sekadar latar kehidupan manusia, melainkan ruang sakral tempat perjumpaan dengan Allah. Namun, hari ini keutuhan itu koyak oleh keserakahan, eksploitasi berlebihan, dan gaya hidup konsumtif. Banjir, polusi, krisis air bersih, dan perubahan iklim bukan sekadar masalah teknis, melainkan tanda relasi yang rusak antara manusia dan ciptaan.

Dalam terang iman, merusak alam berarti merusak harmoni ciptaan yang dipercayakan Allah kepada manusia. Maka, menjaga lingkungan hidup sejatinya adalah tindakan iman, bukan pilihan tambahan bagi orang beriman.

Panggilan Manusia: Penatalayan, Bukan Penguasa

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan untuk menaklukkan ciptaan secara sewenang-wenang, melainkan untuk merawatnya. Panggilan ini ditegaskan kembali oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’. Ia mengingatkan bahwa krisis ekologis adalah cerminan krisis moral dan spiritual manusia modern.

Paus Fransiskus menyebut bahwa manusia telah menempatkan diri sebagai “tuan mutlak” atas alam. Padahal, panggilan sejatinya adalah sebagai penjaga rumah bersama (our common home). Pertobatan ekologis, dengan demikian, menuntut perubahan cara pandang: dari eksploitasi menuju tanggung jawab, dari keserakahan menuju kesederhanaan.

Kenyataan Alam Sekitarku: Iman yang Hadir di Rumah Sendiri

Pertobatan ekologis tidak dimulai dari wacana besar, melainkan dari kenyataan paling dekat: rumah, keluarga, lingkungan sekitar. Bagaimana kita memperlakukan air, listrik, sampah, dan ruang hidup sehari-hari mencerminkan kualitas iman kita. Keluarga Katolik diajak menjadikan rumah sebagai “sekolah ekologi pertama”, tempat anak-anak belajar mencintai ciptaan lewat teladan konkret.

Dalam konteks Indonesia, kerusakan lingkungan sering kali berdampak langsung pada kaum kecil: petani, nelayan, dan masyarakat adat. Maka, kepekaan ekologis juga berarti kepekaan sosial. Merawat alam berarti membela kehidupan dan martabat sesama.

Pertobatan Ekologis: Jalan Spiritual Menyambut Natal

Natal sering dirayakan dengan gemerlap, konsumsi berlimpah, dan hadiah tanpa henti. Ironisnya, perayaan kelahiran Kristus yang lahir sederhana di palungan justru kerap dirayakan secara berlebihan. Di sinilah pertobatan ekologis menemukan relevansinya dalam konteks Natal.

Pertobatan ekologis mengajak umat beriman untuk merayakan Natal secara lebih sadar dan bersahaja: memilih konsumsi yang bertanggung jawab, mengurangi limbah, serta menempatkan makna Natal pada relasi kasih, bukan kemewahan. Menyambut Kristus berarti menyediakan “palungan” yang layak, bukan hanya di hati, tetapi juga di dunia yang lestari.

Natal dan Harapan Baru bagi Ciptaan

Inkarnasi—Allah yang menjadi manusia—menegaskan bahwa dunia materi tidak ditolak oleh Tuhan, melainkan dikuduskan. Dengan lahir di dunia ini, Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan. Maka, setiap tindakan kecil merawat lingkungan adalah partisipasi dalam karya penebusan itu.

Pertobatan ekologis bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan jalan spiritual untuk memperbarui cara hidup. Masa Adven memberi kita waktu untuk bertanya: sudahkah hidup kita menjadi kabar baik bagi bumi? Sudahkah Natal yang kita rayakan membawa damai bagi sesama dan ciptaan?

Dalam keheningan Masa Adven, Gereja mengundang umat untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan—bukan hanya di altar dan doa, tetapi juga di sungai yang bersih, udara yang sehat, dan bumi yang dirawat dengan cinta. Di sanalah Natal menemukan maknanya yang paling mendalam: Allah hadir, dan dunia pun diperbarui.***

Back to top button