Budi Arie Blak-Blakan Alasan Gabung ke Gerindra, Pilihan Rasional dan Strategis

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Ketua Umum (Ketum) Projo, Budi Arie Setiadi blak-blakan mengungkapkan alasan keinginannya bergabung ke Partai Gerindra.
“Beliau (Prabowo Subianto) memerlukan partai politik yang kuat yang solid yang bisa membuat pemerintah lebih efisien lebih efektif, dengan elektabilitas partai yang lebih besar dari sekarang ini dalam Pemilu berikutnya. Sehingga, pilihan untuk bergabung ke partai Gerindra, menjadi pilihan yang sangat rasional dan strategis. apalagi nilai-nilai perjuangan partai Gerindra tak beda jauh dengan Projo,”kata Budi dalam podcast youtube RMOL TV baru-baru ini.
Budi menerangkan, keinginannya untuk bergabung ke Gerindra, bermula ketika Presiden Prabowo Subianto menghadiri kongres PSI pada tanggal 21 Juli 2025.
“Kan teman-teman sudah tau ada peristiwa ketika pak Presiden Prabowo menanyakan ke saya, apakah kamu PSI atau Gerindra, gitu loh, ada peristiwa itu sebelumnya ya. Itu kalau tak salah di Solo 20 Juli 2025, di acara Kongres PSI, dan itu juga viral waktu itu. Ada tanggapan dari Prabowo, Budi Arie kamu itu PSI atau Gerindra. Karena hemat kami, setelah direnung-renungkan, kita sudah kalkulasi, berfikir, berdiskusi dengan banyak pihak, teman-teman, saya rasa kita harus memperkuat partai Gerindra, partai pimpinan Prabowo. Kenapa, karena agenda politik Pak Prabowo ini begitu strategis,”ungkapnya.
Budi juga membantah, isu Projo akan dijadikan partai.
“Itukan spekaluasi-spekulasi yang berkembang. Kami berdiskusikan dengan matang, bahwa yang diperlukan bangsa ini kayak organisasi masyarakat yang bisa memperjuangkan nasib rakyat. Karena kita sadar, kita paham, kita menilai bahwa demokrasi ini memerlukan pondasi partai politik yang kuat, tetapi juga jangan diabaikan civil sociaty move on ini juga hal yang krusial,”tegasnya.
Budi lalu membeberkan alasan ketidakhadiran mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam kongres ketiga Projo. Dia menyebut bahwasanya Jokowi telah menghubunginya
“Beliau menghubugi saya langsung dan juga kepada teman-teman bahwa beliau tak diizinkan oleh dokternya karena dokternya menyarankan utuk tidak bertemu banyak orang dulu. Kita harus menghormati opini dokter dan perimbangan medis,”jelasnya lagi.
Termasuk kabar retaknya hubungan Projo-Jokowi, ditepis keras Budi.
“Itu tidak benar. Projo tu lahir karena kerinduan kita terhadap hadirnya, lahirnya pemimpin rakyat yang bernama pak Jokowi. Projo ini lahir 2013 dengan semangat menghadirkan pemimpin yang mencintai rakyat bekerja untuk rakyat dengan sepenuh hatinya dan itu ada di Jokowi,”beber Budi.
Ia menekankan, di tahun 2014 hingga 2024, Projo secara konsisten terus menyuarakan kepentingan rakyat dan membela berbagai kebijakan pemerintahan Jokowi saat itu. Termausk juga megingatkan berbagai hal, manakala ada persoalan dan permasalahan diakar rumput.
“Nah, di tahun 2024, Projo mendukung pelopor pasangan Prabowo-Gibran di Pilres 2024. Jadi, menurut hemat kami, narasi-narasi yang ada seolah-olah Projo sudah renggang dengan Jokowi, inikan soal adaptasi transformasi dilakukan agar organisasi Projo ini tetap relevan,”kata Budi.
“Jadi, kalau kita dukung atau masuk partai Gerindra, loh apa yang salah, kalau saya masuk partai lain itu baru putar haluan, ini bukan putar haluan, ini jalan lurus jalan maju terus kan,”timpanya lagi.
Budi menyadari bahwa akan terjadi framing terhadap isu tersebut.
“Kalau saya masuk PSI yang framing bilang Budi Arie tidak setia kepada Prabowo. Begitu saya pilih ke Gerindra waktu itu, saya pasti di framing, Budie Arie tidak setia terhadap Jokowi. Jadi dua duanya itu pilihan itu tergantung sudut pandang framingnya. Mereka kan mau framing, jadi buat saya minta izin ke teman teman Projo di seluruh Indonesia, untuk saya bergabung ke Gerindra, pilihan logis pilihan strategis dan rasional, kenapa, karena kami Projo ini berkepentingan untuk menyatukan pak Prabowo dan Jokowi, karena ini bagus untuk bangsa dan rakyat,”terangnya.
Budi mempertanyakan, jika Prabowo-Jokowi tidak bersatu, siapa yang akan diuntungkan.
“Kita balik tanya siapa yang diuntungkan dengan tidak bersatunya Prabowo dan Jokowi, nah itu nanti diskusi sendiri, gitu loh, ada ga pihak-pihak yang gembira dengan tidak bersatunya Jokowi Prabowo sehingga terus menebarkan narasi-narasi atau adu domba-adu domba yang membuat suasana menjadi kurang kondusif,”tuturnya.
Kendati demikian, Budi menyerahkan keputusan terbaik dari partai Gerindra.
“Saya baru minta izin ke Projo, nunggu keputusannya dari partai Gerindra,”pungkasnya.(wan)
Editor: yn
