KAMPUS

Perguruan Tinggi Perlu Miliki Kemampuan Untuk Terus Beradaptasi Terhadap Perubahan

Ilustrasi peguruan tinggi. Foto istimewa

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Perguruan tinggi perlu memiliki kemampuan untuk terus beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung semakin cepat.

Demikian dikatakan Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sesjen Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco.

Menurutnya, organisasi yang unggul tidak hanya ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan untuk belajar, memperbaiki proses, dan membangun budaya organisasi yang adaptif.

“Tugas dari perguruan tinggi adalah menghasilkan future talent, talenta-talenta masa depan,” ujar Badri dalam keterangan resmi diambil Sabtu (20/6/2026).

Dia menekankan bahwa talenta masa depan dibangun melalui pembelajaran yang berkualitas, penelitian yang aktif dan relevan, serta pengabdian kepada masyarakat yang mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu terus meningkatkan kualitas tata kelola, pembelajaran, dan inovasi agar mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif di tingkat global.

Badri juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam transformasi pendidikan tinggi. Menurutnya, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), big data, dan teknologi digital perlu direspons melalui pembaruan kurikulum serta peningkatan kompetensi dosen.

Berdasarkan kajian yang dilakukan bersama dunia industri dan berbagai pemangku kepentingan, keterampilan yang diproyeksikan semakin dibutuhkan pada masa depan antara lain AI dan digital skills, creative thinking, cybersecurity, serta analytical thinking.

Karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan proses pembelajaran mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi tersebut melalui keselarasan ekosistem yang mencakup tiga komponen utama.

“Tiga komponen harus dimiliki oleh individu, organisasi dan negara: learning, process, dan context. Pentingnya belajar secara terus menerus, dan diintegrasikan menjadi proses yang lebih baik dari sebelumnya. Iterasi tersebut akan menjadikan context (budaya) yang secara dinamis melakukan pembaruan dari kapabilitas yang dimiliki dari waktu ke waktu dan keberlanjutan kinerja terbaik di masa depan,” ungkap Badri.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa akumulasi dari ketiga komponen tersebut akan membentuk kapabilitas untuk terus beradaptasi.

“Pentingnya kapabilitas untuk berubah dalam merespon dinamika lingkungan dapat dilakukan pada level individu (baik mahasiswa, dosen, tenaga administrasi, dan pimpinan perguruan tinggi). Jika diagregasi akan menjadi kapabilitas organisasi untuk berubah, yang menentukan kinerja perguruan tinggi. Secara keseluruhan, akan menentukan kapabilitas negara untuk berubah menjadi negara maju,” tegas Badri.

Dia juga mengajak perguruan tinggi untuk belajar dari pengalaman negara-negara yang berhasil meningkatkan daya saing melalui penguatan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi. Menurutnya, pendidikan tinggi memiliki kontribusi penting dalam mendukung transformasi sosial, transformasi ekonomi, dan transformasi tata kelola sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Melalui tata kelola yang inovatif dan manajemen strategis yang berkelanjutan, perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia unggul, inovasi, dan teknologi yang memberikan dampak nyata bagi kemajuan bangsa.(i)

Editor: yn

Back to top button