Galodo

PROKEPRI.COM, OPINI – Rumah-rumah mewah, perkantoran, infrastruktur dan jaringan telekomunikasi, sebuah simbol peradaban modern, semua hancur. Mobil-mobil mewah juga hanya teronggok dalam kubangan lumpur. Sebagian ringsek diterjang banjir galodo sebagian hanyut terbawa arus.
Yang tersisa hanya puing-puing dan tangisan haru. Sebuah daerah yang begitu indah dengan infrastruktur yang mewah seperti hilang dalam sekejap. Jalan dan jembatan megah hilang tak berbekas. Rumah-rumah masyarakat hanya terlihat sebagian atapnya karena tertutup lumpur, batu dan potongan-potongan kayu.
Korban materi tak terhitung jumlahnya. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Hujan yang berhari-hari telah menenggelamkan puluhan kabupaten dan kota.
Tercatat 303 korban kehilangan nyawa dan 143 orang hingga kini tidak tahu keberadaannya. Ribuan orang akhirnya memilih mengungsi, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan tempat dimana digantung sebuah mimpi dan harapan. Kebanyakan mereka hanya pergi dengan bekal seadanya. Selembar baju di badan dan sebuah harapan tentang datangnya sebuah bantuan.
Galodo memang datang tiba-tiba. Tidak mengirim pesan. Tidak ada pengumuman. Mereka seperti serentak datang bergemuruh di tiga Provinsi: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Tidak hanya air dan lumpur, galodo datang membawa batu, kayu dan kehancuran. Seolah mereka sengaja memberikan peringatan pahit tentang kerakusan manusia yang sering kali memperkosa alam.
Banjir, tanah longsor dan kebakaran tidak datang sendiri bukan? Selalu ada tangan-tangan yang tak terlihat yang mengundang mereka datang.
Selalu kata ‘arif’ diperlukan dalam mengelola alam. Karena kerakusan pasti akan berujung pada bencana. Cukuplah Banjir Galodo contoh nyata di depan mata kita.
Tanpa harus menyalahkan siapa, tapi mereka para korban adalah saudara kita. Uluran tangan diperlukan agar beban derita bisa berkurang.
Sebagai sesama anak bangsa mari kita bantu mereka para korban Banjir Galodo agar bisa tersenyum dan kembali bangkit untuk melanjutkan kehidupan di hari-hari berikutnya.***
