KAMPUS

Dorong Pengelolaan Sampah Organik, ITB Kembangkan Apartemen Ayam

Tampak apartemen ayam yang dikembangkan ITB untuk mendorong pengelolaan samah organik. Foto ITB

PROKEPRI.COM, BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan sistem pengolahan sampah organik berbasis magot Black Soldier Fly (BSF) yang terintegrasi dengan budi daya ayam petelur.

Inovasi yang dikenal sebagai apartemen ayam tersebut kini diterapkan di Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat.

Pengembangannya merupakan hasil kolaborasi ITB, PT Bank Mandiri Taspen, dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk menghadirkan model pengelolaan sampah organik yang sederhana, bernilai ekonomi, dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Program ini dijalankan Dr.rer.nat. Linus Ampang Pasasa, M.S., dosen ITB, melalui skema Bottom Up 1 Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB.

Skema tersebut menjadi salah satu wadah bagi dosen ITB untuk mengembangkan gagasan pengabdian masyarakat berdasarkan persoalan dan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.

Sebelumnya, konsep serupa telah dikembangkan ITB di sejumlah wilayah Kota Bandung, antara lain Pasirlayung dan Tamansari.

Di Pasirlayung, ITB mengembangkan model pengolahan sampah organik terpadu yang memadukan budi daya magot, ayam petelur, kolam ikan, dan bank sampah.

Sementara di Tamansari, konsep Apartemen Ayam-Maggot dikembangkan dalam struktur vertikal empat tingkat yang mampu mengolah sekitar 200–250 kilogram sampah organik dapur per hari.

Konsep apartemen ayam dikembangkan untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah organik sekaligus keterbatasan lahan, terutama di kawasan perkotaan dan permukiman padat.

Instalasi dirancang secara vertikal dengan ukuran sekitar 1 × 6 meter. Di dalamnya terdapat beberapa bagian yang mengintegrasikan budi daya ayam dan magot BSF.

Sampah organik yang telah dipilah dimanfaatkan sebagai sumber pakan bagi maggot. Setelah tumbuh, maggot kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam.

Menurut Dr.rer.nat. Linus Ampang Pasasa, M.S., sistem tersebut dapat mengurai sampah organik dalam waktu relatif singkat. Dalam kondisi yang sesuai, sampah yang dimasukkan ke dalam sistem dapat terurai dalam sekitar dua hari. Kapasitas pengolahan mencapai sekitar 250 kilogram sampah organik per hari, bergantung pada jumlah unit dan ketersediaan pasokan sampah.

“Kalau kita memasukkan sampah ke dalam sistem ini, dua hari itu sudah terurai,” ujar Linus dikutip ITB, Selasa (18/8/2026).

Selain sampah rumah tangga, sistem tersebut juga berpotensi menerima sampah organik dari sektor hotel, restoran, dan kafe (HOREKA). Dengan demikian, semakin banyak sampah organik yang dipilah dari sumbernya, semakin besar pula potensi material tersebut untuk dimanfaatkan kembali dalam sistem.

Tidak berhenti pada pengurangan sampah, sistem ini juga menghasilkan produk turunan berupa maggot dan telur ayam. Magot dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ayam, sedangkan telur dapat dikonsumsi, dijual untuk mendukung operasional kelompok pengelola, atau dimanfaatkan untuk kegiatan sosial masyarakat.

“Telurnya mau dijual untuk biaya yang mengurus atau dibagi-bagi untuk penanganan stunting melalui puskesmas dan sebagainya. Tinggal bagaimana manajemennya,” kata Linus.

Editor: yn

Back to top button