
PROKEPRI.COM, OPINI – Prata atau roti canai saat ini sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Melayu. Meskipun asal-usulnya berakar dari pengaruh India (khususnya etnis Tamil), “Roti Prata” telah mengalami proses asimilasi budaya yang sangat kuat hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner masyarakat Melayu.
Dalam perjalanannya makanan ini juga menjadi bukti nyata dari konsep melting pot di Asia Tenggara. Masyarakat Melayu mengadopsi teknik pembuatan roti ini dan menyesuaikannya dengan lidah lokal.
Ini bukan sekadar makanan, melainkan simbol keramahan, silaturahmi dan keterbukaan budaya Melayu terhadap pengaruh luar yang kemudian “dimelayukan.”
Dalam tradisi budaya Melayu, makan bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi soal silaturahmi. Karena itu tidak jarang prata menjadi menu wajib di kedai-kedai kopi atau gerai tempat orang-orang berkumpul sebelum beraktivitas.
Tidak jarang juga tradisi makan prata di kedai kopi menjadi ajang diskusi santai dan menarik mengenai politik, ekonomi, hingga urusan keluarga. Istilah “ngeteh” atau “ngopi” hampir selalu identik dengan hadirnya sepiring prata di meja beserta membahas isu-isu menarik kekinian.***
