OPINI

Tanjungpinang Kota Slow Living

Oleh : Robby Patria, Dosen UMRAH sekaligus Penulis

Robby Patria. Foto dok prokepri

PROKEPRI.COM, OPINI – Tanjungpinang bisa kita sebut sebagai kota slow living seharusnya menjadi kota yang nyaman dan damai, tempat masyarakatnya dapat menikmati hidup dengan santai dan sejahtera.

Namun, julukan ini menjadi tidak berarti jika tidak diimbangi dengan upaya nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membangun infrastruktur kota yang memadai.

Pemerintah kota perlu mengoptimalkan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan PAD.

Salah satu sahabat dari Jakarta melakukan kunjungan kerja ke Tanjungpinang menulis di WA group, dia heran dan salut Kota Tanjungpinang salah satu kota yang slow living dibandingkan Yogyakarta yang sekarang ramai.

Kota ini mirip mirip juga Purwokerto yang nyaman untuk pensiun. Menghabiskan hari hari tua sambil menikmati pasif income melalui bisnis kos kosan atau rumah sewa.

Bahkan di media sosial, pesohor negeri tak jarang salah tulis Tanjungpinang menjadi Pangkal Pinang. Ternyata ibu kota Provinsi Babel itu melekat di hati wisata nusantara.

Maklum saja Babel memiliki keindahan objek wisata pantai yang indah. Sementara Tanjungpinang masih mau menyulap Pulau Penyengat jadi wisata budaya dan religius.

Solusi dan Strategi Pembangunan

Dalam memperingati hari jadinya yang ke-24, Tanjungpinang perlu memiliki visi yang jelas dan strategi pembangunan yang tepat. Pemerintah kota harus lebih kreatif dalam mengoptimalkan potensi dan mencari solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.

Pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan PAD. Selain itu, pemerintah kota perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan.

Dengan kerja sama dan semangat gotong royong, Tanjungpinang dapat menjadi kota yang lebih sejahtera dan maju. Perlu ada komitmen kuat dari pemerintah kota dan masyarakat untuk membangun kota lebih baik. Pemimpin daerah ini harus mau mendengar masukan dari para intelektual kampus. Tak bisa hanya kerja semaunya saja.

Dalam memperingati hari jadinya yang ke-24, Tanjungpinang memiliki kesempatan untuk mengevaluasi diri dan menentukan arah pembangunan yang lebih baik untuk masa depan. Agar kota ini bergairah, pemerintah kota perlu meningkatkan PAD melalui pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Kemudian peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah kota perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan yang memadai. Dan ketiga Peningkatan pengembangan infrastruktur. Pemerintah kota perlu mengembangkan infrastruktur kota yang memadai untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan upaya yang sistematis dan terarah, Tanjungpinang dapat menjadi kota yang lebih sejahtera dan maju. Dan berbenah sesuai dengan tagline walikota saat ini. Jika tidak segera merespon perubahan politik dan kebijakan anggaran dengan cermat, maka slogan Tanjungpinang Berbenah berubah menjadi Tanjungpinang Susah.***

Back to top button