NASIONAL

Viral Balita Meninggal di Bulukumba Diduga Kelaparan

Ilustrasi balita. Foto bbc

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Jagat maya baru-baru ini diguncang oleh kabar pilu dari Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Narasi yang beredar luas di media sosial menyebutkan bahwa seorang balita berusia satu tahun, Nakla Syafira, mengembuskan napas terakhirnya akibat diduga kelaparan pada Kamis (29/10/2026) lalu.

Bayi tersebut dikabarkan tidak mendapat asupan makanan dan susu selama 10 hari akibat jerat kemiskinan ekstrem yang menimpa keluarganya.

Sontak, kabar ini memicu gelombang keprihatinan sekaligus kecaman dari netizen yang menyayangkan bagaimana tragedi seperti ini bisa luput dari perhatian lingkungan sekitar dan pemerintah daerah.

Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan keprihatinannya sekaligus belasungkawa atas meninggalnya balita tersebut.

“Dukacita mendalam atas berpulangnya adik Nakla Syafira. Kita perlu memahami apa yang dihadapi pihak keluarga sejak anak mulai sakit, bagaimana mereka mencari pertolongan, dan dukungan apa yang diperlukan agar keluarga lain dapat memperoleh penanganan lebih awal,”ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/11/2026).

Peristiwa ini, menurut Puan, perlu menjadi perhatian bersama untuk memastikan masyarakat dapat memperoleh pertolongan sejak kondisi kesehatan anak mulai memburuk. Ia menekankan pentingnya layanan kesehatan bagi masyarakat dari kelompok rentan seperti keluarga balita Nakla yang masih awam dengan dunia medis.

“Pertolongan kesehatan harus lebih mudah dijangkau masyarakat, terutama bagi keluarga yang kurang memiliki akses informasi. Pelayanan dari Negara harus bisa jemput bola dalam keadaan tertentu,” tuturnya.

Puan pun mendorong Pemerintah daerah bersama pihak pelayanan kesehatan menelusuri perjalanan penanganan anak tersebut secara menyeluruh dan dengan menghormati keluarga.

“Penelusuran perlu memperjelas apakah keluarga menghadapi kesulitan mengenali kondisi yang membutuhkan pertolongan segera, memperoleh informasi, menjangkau fasilitas kesehatan, atau mendapatkan bantuan untuk membawa anak berobat,” sebutnya.

Menurut Puan, pemberitaan yang beredar belum cukup untuk memastikan adanya hambatan jarak, biaya, kepesertaan jaminan kesehatan, maupun pelayanan.

“Karena itu, pemerintah perlu mendengar pengalaman keluarga dan memeriksa catatan pelayanan sebelum menentukan perbaikan yang dibutuhkan,”tegasnya.

Puan juga mengingatkan agar daerah memastikan kemudahan layanan kesehatan bagi warganya.

“Kemudahan berobat perlu dilihat dari keadaan keluarga. Apakah mereka tahu harus menghubungi siapa, mempunyai cara untuk datang, dan memperoleh arahan ketika kondisi anak berubah? Jawaban atas pertanyaan itu membantu pemerintah memastikan pertolongan benar-benar dapat dijangkau,” papar Puan.

Ia mengatakan, DPR akan mengawal tindak lanjut pemerintah agar pelayanan kesehatan menjangkau keluarga yang paling membutuhkan serta kesinambungan pendampingan bagi anak yang memiliki risiko kesehatan.

“Setiap keluarga perlu mempunyai kepastian bahwa ketika anak sakit, ada pertolongan yang dapat mereka jangkau. Peristiwa di Bulukumba harus menjadi momen untuk memperbaiki pelayanan agar Negara dapat membantu lebih banyak anak memperoleh perawatan pada waktu yang dibutuhkan,” tutup Puan.

Seperti diketahui, awalnya balita ini disebut meninggal dunia setelah tidak mendapat asupan makanan dan susu selama 10 hari.

Belakangan diketahui, penyebab kematian Nakla akibat komplikasi kondisi kesehatannya. Nakla disebut bukan tidak memiliki bahan makanan, melainkan sedang sakit hingga kehilangan nafsu makan. Nakla mengalami radang tenggorokan akut, namun tidak segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Balita malang tersebut sempat demam dan kejang-kejang di rumah, dan pihak keluarga baru meminta pertolongan ke perangkat desa setempat setelah kondisi Nakla tidak mampu lagi ditangani sendiri di rumah.

Nakla dibawa dalam kondisi kritis dan dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD H Andi Sulthan Daeng Radja, Kabupaten Bulukumba.

Berdasarkan pemeriksaan, balita ini juga mengalami sejumlah masalah kesehatan mulai dari gizi buruk, stunting, hingga gangguan fungsi otak, gangguan pernapasan (respiratory distress) dan kejang berkepanjangan. Nakla juga diketahui memiliki lebam bekas benturan yang disebut akibat terjatuh.(red)

Back to top button