KEPRI

Hasil Tangkapan Nelayan Bagan Melimpah, Cold Storage di Tarempa Kewalahan

Suasana Cold Storage di Tarempa kewalahan tingginya pasokan ikan, Selasa (14/4/2026). Foto prokepri/Agus Suradi

PROKEPRI.COM, ANAMBAS – Hasil tangkapan nelayan bagan di Kabupaten Kepulauan Anambas dalam beberapa hari terakhir mengalami lonjakan signifikan. Berbagai jenis ikan berhasil diperoleh dalam jumlah besar, dengan dominasi ikan selayang yang mencapai ratusan ton, Selasa (14/4/2026).

‎Melimpahnya hasil tangkapan tersebut berdampak pada turunnya harga jual di tingkat penampung.

Untuk ikan selayang, harga saat ini hanya berkisar Rp10.000 per kilogram.

‎Sementara itu, komoditas lain seperti cumi-cumi terpantau stabil, yakni sekitar Rp35.000 hingga Rp38.000 per kilogram untuk ukuran besar, dan Rp19.000 per kilogram untuk ukuran sedang.

‎Lonjakan produksi ini turut memicu peningkatan aktivitas di tempat penampungan dan pembekuan ikan (cold storage) di kawasan Tarempa, Kecamatan Siantan.

Sejumlah pengusaha mengaku kewalahan menghadapi tingginya pasokan yang masuk setiap hari.

Tercatat, terdapat empat unit cold storage yang beroperasi di wilayah Tarempa yaitu milik Dodo,KUD Tarempa,tempurung dan Perikanan Antang.

‎Namun, seluruhnya kini dalam kondisi hampir penuh dan harus memberlakukan sistem antre bagi nelayan maupun penampung yang ingin melakukan pembekuan menggunakan Air Blast Freezer (ABF).

‎Salah satu pengusaha cold storage, Dodo, mengungkapkan bahwa kapasitas penyimpanan yang dimiliki saat ini hampir tidak mampu lagi menampung hasil tangkapan yang terus berdatangan.

‎“Hari ini stok penyimpanan kami sudah mencapai sekitar 100 hingga 150 ton dan hampir penuh, sementara pasokan terus bertambah. Kami benar-benar kewalahan untuk pembekuan menggunakan Air Blast Freezer (ABF),” ujarnya.

‎Ia menjelaskan, kapasitas pembekuan ABF di tempat usahanya hanya sekitar 2 ton per sekali proses, sementara ruang penyimpanan mencapai sekitar 300 ton. Ketidakseimbangan ini membuat proses penanganan ikan tidak sebanding dengan volume yang masuk.

‎Kondisi serupa juga terjadi di cold storage milik KUD Tarempa yang hanya memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 10 ton, dengan kemampuan pembekuan ABF sekitar 1 ton per hari.

‎Sementara itu, cold storage Perikanan Antang memiliki kapasitas penyimpanan lebih dari 100 ton dengan kemampuan pembekuan sekitar 2 hingga 3 ton per hari.

‎Untuk mengatasi kelebihan pasokan, beberapa pengusaha bahkan masih mengandalkan fasilitas tambahan seperti pendingin boks (baling) dan kontainer.

‎Tidak hanya pengusaha cold storage, lonjakan hasil tangkapan ini juga berdampak pada pelaku usaha es batu yang kesulitan memenuhi kebutuhan nelayan yang meningkat drastis.

‎Kondisi ini telah berlangsung selama beberapa hari terakhir dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

‎Para pelaku usaha berharap adanya solusi, baik dari sisi distribusi maupun penambahan fasilitas penyimpanan, agar hasil tangkapan nelayan dapat tertangani dengan optimal tanpa merugikan pihak manapun.(as)

Editor: yn

Back to top button