KEPRI

Ini Tanggapan Sekdako Tanjungpinang Terkait Mahalnya Harga Sewa Lapak Pasar Bincen

Am, penjual daging sapi, sedang melayani pembeli di pasar Bincen, Senin (6/3). Foto Prokepri.com/ Rudi Rendra.

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Sekretaris Kota (Sekdako) Tanjungpinang, Riono mengaku kurang begitu mengerti mengapa sewa lapak di Pasar Bintan Center (Bincen) Tanjungpinang dikatakan mahal. Ia berpesan kepada para pedagang khususnya, agar tidak tergiur dengan pengelola yang sifatnya di bawah tangan.

“Sekarang kalau dibilang mahal mengapa disewa, itu satu,” ungkap Riono kepada Prokepri.com, Senin (6/3).

Riono mengingatkan kepada para pedagang, agar tidak tergiur dengan pengelola yang sifatnya tidak resmi.

“Kedua, definisi mahal itu dia menyewa dengan siapa? Jangan sampai dia di bawah tangan, kalau dengan BUMD kan tidak seperti itu. Oleh karena itu kita menghimbau kepada pedagang-pedagang yang ada tidak melakukan sewa menyewa di bawah tangan. Jika seperti itu kita tidak bisa pertanggungjawabkan. Nanti yang terjadi ya seperti oknum-oknum yang kemarin, kan di bawah tangan semua. Makannya jangan tergiur gitu, kalau memang apa coba pendekatan dengan BUMD, jangan di bawah tangan. Kalau di bawah tangan ya seperti itu jadinya. Barang 5 juta jadinya belasan juta. Nanti yang dikomplain pemerintah. Padahal pemerintah tidak tahu menahu,” pesan Riono lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, pedagang di Pasar Bintan Center (Bincen) Tanjungpinang meminta pemerintah melalui PT Tanjungpinang Makmur Bersama (TMB) Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menurunkan harga sewa lapak. Harga yang dipatok saat ini dinilai memberatkan pedagang lantaran minimnya pembeli.

“Kalau bisa kepada pihak pengelola (pemerintah melalui BUMD,red), turunin dikitlah harga (sewa lapak). Karena lampu, meja, dan air yang 90 ribu. Soalnya sepi pembeli lo,” kata Simamora, salah seorang pedagang palawija di Pasar Bincen kepada Prokepri.com, Senin (6/3) pagi.

Terkait harga kebutuhan masyarakat, Simamora mengatakan, harga cabai minggu ini belum normal. Akan tetapi, harga sayuran yang lain masih cenderung sama bahkan ada yang turun.

“Cabai Rawit misalnya satu kilo saat ini 58 ribu, itu belum normal. Kalau normalnya 40 ribu. Bawang merah turun. Semula 30 ribu, sekarang jadi 24 ribu, 26 ribu-lah paling tinggi. Bawang putih normal harganya 40 ribuan sudah setahun 40 ribu terus. Harga kol juga turun. Awalnya 7 ribu sekarang jadi 6 ribu. Kalau harga kentang yang dari Medan 17 ribu per kilo. Kalau kentang yang luar 10 ribu,” ungkap Simamora.

Simamora memastikan naiknya harga cabai rawit dikarenakan penentuan harga dari petani. Termasuk juga, pasokan cabai dari kebun berkurang. Sedangkan banyak permintaan dari pembeli.

Dilokasi yang sama, salah seorang pembeli di pasar Bincen, Nurdin menyampaikan beberapa keluhannya terkait harga sembako.

“Harga sembako di sini kelihatannya perlahan semakin naik, kayak beras yang bagusnya itu 14 ribu per kilo, kalau bawang sudah agak turun, daging yang mahal Rp135 ribu per kilo. Mudah-mudahan ada upaya Pemko untuk menormalkan harga sembako,” harap Nurdin.

Acang, seorang penjual sembako di pasar Bincen juga menyampaikan harga beras merek Kalajengking Rp. 15 Ribu Perkilo, sedangkan harga telur Ayam pada bulan ini masih dapat dikatakan stabil, artinya harga telur yang ada di pasaran masih berada pada kisaran harga yang sama antara Rp1.500 sampai Rp2000 per butir.

“Sedangkan harga daging ayam sekilonya masih stabil, Rp35 ribu per kilo,” ungkap Acang.

“Harga daging masih sama seperti minggu lalu, masih 35 ribu per kilo, tapi untuk minggu ini sepi pembeli,” celetuk Pak Rian, selaku penjual daging ayam yang ikut nimbrung.

Pak Rian juga mengatakan tentang omset pendapatan perhari yang cukup lumayan,

“Kalau sepi seperti ini, paling Rp. 500 ribu per hari, kalau ramai bisa satu juta, bahkan 10 juta,” Ungkapnya.

Sedangkan harga daging sapi menurut Bapak Am masih stabil, “Harga daging sapi masih seperti yang dulu, 35 ribu per kilo, sama seperti lagu Tomi J Pisa, aku masih seperti yang dulu,” ungkapnya sambil berseloroh menirukan nada lagu Tomi J Pisa.

Reporter : Rudi Rendra

Tinggalkan Balasan

Back to top button