KEPRITANJUNGPINANG

Komisaris BUMD Tanjungpinang Berikan Kesaksian di Sidang Pungli Lapak Pasar Bincen

Sidang Pungli Lapak Bincen

Gatot Agus Prabowo, Komisaris BUMD PT TMB Tanjungpinang hadir sebagai saksi sidang dugaan Pungli sewa kios/lapak di Pasar Bintan Center dengan terdakwa Asep Nana Suryana, dan Slamet, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang, Kamis (27/7). Foto Prokepri.com.

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG РKomisaris Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Tanjungpinang Makmur Bersama (TMB), Gatot Agus Prabowo hadir sebagai saksi sidang dugaan pungutan liar (Pungli) sewa kios/lapak di Pasar Bintan Center dengan terdakwa Asep Nana Suryana, selaku Direktur utama (Dirut) Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Tanjungpinang Makmur Bersama (TMB) dan Slamet, koordinator pasar Bincen, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang, Kamis (27/7).

Namun sebagian besar keterangan yang disampaikan Komisaris BUMD Tanjungpinang tersebut, lebih banyak mengaku tidak mengetahui tentang proses pelaksanaan di lapangan, teruma menyangkut persoalan sewa menyewa kios oleh para pedagang di Pasar Bincen, termasuk menyangkut dugaan kasus pungli yang dilakukan oleh terdakwa Asep Nana Suryana maupun Slamet.

Sikap Gatot tersebut, sempat membuat kesal jaksa penuntut umum (JPU) RD Akmal SH, ketika Gotot mengaku tidak tahu saat ditanyakan adanya pungutan uang penempatan kios yang dibayarkan oleh para pedagang dengan melebih dari ketentuan harga sebenarnya.

“Pada hal salah satu fungsi tugas saudara sebagai Komisaris di BUMD tersebut melakukan pengawasan, namun kenapa saudara tidak mengecek adanya beberapa kejanggalan di lapangan,” ucap JPU kepada Gatot.

Disamping Gatot, JPU juga menghadirkan saksi lainnya, yakni Ariono Prabowo Ahli, saksi ahli bidang IT dari Polda yang menerangkan tentang pungli, sebagaimana dugaan yang dilakukan oleh terdakwa Asep dan Slamet tersebut.

Saksi lainnya, yakni Wanrafni, salah seorang wanita yang dinilai mengetahui pada saat proses penangkapan terdakwa Slamet oleh pihak kepolisian, ketika saksi Nanang salah seorang pedagang menyerahkan uang kepada Slamet sebagai uang penempatan kios di Pasar Bincen saat itu.

Sebagaimana terungkap dari keterangan sejumlah saksi dalam sidang sebelumnya, bahwa uang untuk penempatan kios di Pasar Bincen tersebut hanya sebesar Rp5 juta, ditambah uang buku surat perjanjian Rp200 ribu.

Namun oleh sejumlah pedagang yang pernah bersaksi, mengaku pernah membayarkannya kepada Slamet dengan besaran Rp8 juta hingga Rp10 juta, termasuk Rp40 juta dan Rp55 juta untuk dua atau tiga kios.

Penulis : AL

Tinggalkan Balasan

Back to top button