OPINI

Gubernur Kepri Itu Harus Berani

Oleh: Soyono Saeran, Staf Ahli Gubernur Kepri

Gubernur Kepri H Ansar Ahmad. Foto dok SS

PROKEPRI.COM, OPINI – Memimpin wilayah kepulauan (archipelagic leadership) bukan sekadar urusan administratif di belakang meja, melainkan sebuah ujian ketahanan yang nyata.

Karena kondisi wilayah kepulauan yang penuh dengan tantangan geografis menciptakan hambatan logistik dan komunikasi yang tidak dialami oleh pemimpin di wilayah daratan yang menyatu.

​Seorang pemimpin yang wilayahnya banyak pulau dengan rentang kendali yang jauh seperti Kepulauan Riau memerlukan kekuatan phisik tersendiri karena harus siap dengan mobilisasi yang melelahkan.

Butuh waktu dan perjalanan yang panjang bahkan sampai berjam-jam di laut untuk mencapai pulau terluar. Belum lagi harus menghadapi tantangan medan yang terkadang harus siap pada perubahan cuaca ekstrem, mabuk laut, hingga keterbatasan fasilitas pelabuhan di wilayah pelosok.

​Sementara masyarakat berharap pemimpin hadir dalam sosok yang nyata. Karena masyarakat di pulau terpencil merasa “diakui” hanya jika pemimpinnya hadir secara fisik, bukan sekadar lewat layar kaca.

Karenanya memimpin di wilayah kepulauan memerlukan kekuatan mental yang tangguh agar mampu mengelola keisolasian dan kesenjangan.

Rentang kendali yang jauh sering kali menciptakan rasa “terisolasi,” baik bagi masyarakat maupun bagi pemimpinnya sendiri.

Disinilah sebuah kesabaran strategis juga sangat dibutuhkan. Menghadapi keterlambatan distribusi logistik atau pembangunan karena faktor cuaca dan transportasi tidak bisa diselesaikan secara emosional. Mereka harus bisa mengambil keputusan cepat, tepat dan bijak di tengah minimnya data real-time akibat kendala sinyal atau infrastruktur komunikasi yang terbatas.

Semua harus dilakukan agar mampu menjaga koneksi emosional dan psiologis dengan masyarakat yang merasa jauh dari pusat kekuasaan agar rasa nasionalisme tetap terjaga.

Untuk itu memimpin sebuah wilayah kepulauan harus berani. Keberanian di sini bukan hanya soal nyali, tapi soal integritas dalam situasi sulit. Salah satunya berani dalam mengelola anggaran apa lagi situasinya sulit seperti sekarang.

Tidak jarang biaya pembangunan di pulau terpencil jauh lebih mahal (high cost) karena persoalan lokasinya yang jauh. Pemimpin butuh keberanian untuk tetap membangun demi keadilan sosial, meski secara hitungan politik mungkin dianggap “tidak efisien.”

​Memimpin Kepulauan Riau memang tidak mudah. Sekali lagi tidak gampang! Memimpin wilayah seperti Kepri ini adalah sebuah pengabdian fisik, jiwa dan batin. Tanpa kombinasi ketiganya, seorang pemimpin hanya akan menjadi “tamu” di wilayahnya sendiri, dan rakyat di pulau terjauh akan terus merasa tertinggal serta terabaikan.***

Back to top button