
PROKEPRI.COM, LINGGA – H Ansar Ahmad menjadi Gubernur Provinsi Kepri pertama berkunjung ke Desa Mentuda, yang terletak di pesisir Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga. Desa ini adalah sebuah Pulau terpencil, terisolir dan bahkan bisa dikatakan tertinggal.
Mentuda merupakan daerah yang jarang mendapat kesempatan dikunjungi pejabat Pemerintah Provinsi Kepri sekelas Gubernur, dan Ansar Ahmad menjadi pemimpin daerah Kepri pertama yang berkunjung ke Desa ini.
“Bagaimana pun caranya Negara harus hadir ditengah masyarakat. Dan kita Pemerintah Provinsi Kepri sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat harus bisa hadir disini, bagaimanapun caranya,” kata Ansar, Sabtu (3/9) kemaren.
Beberapa hari sebelumnya kepala Desa Mentuda, Darmawan berulangkali mengkomunikasikan, memberi tahu, masarakat sangat gembira mendengar kabar Gubernur akan berkujung ke Desanya.
Berbagai bentuk penyambutan sudah disiapkan, seperti ritual tepung tawar, atraksi silat, pentas seni, kuliner terbaik dan sebagainya.
Informasi antusiasme masyarakat Mentuda tersebut sampai ke telinga Gubernur Kepri H. Ansar Ahmad.
Kerinduan masyarakat Mentuda terhadap pemimpinnya pun ‘gayung bersambut’. Ansar merespon dengan baik dan membalas antusias untuk hadir di Desa yang teletak tepat di belakang Gunung Daik tersebut.
Mulanya Gubernur Ansar hanya diundang untuk membuka turnamen sepakbola Mentuda Cup V yang diikuti Oleh 64 tim se kabupaten Lingga. Namun keputusan hadir Gubernur Ansar tidak hanya sekedar untuk sebuah turnamen sepakbola, melainkan menjadi sebuah tanggungjawab pekerjaan yang saat ini sedan dia emdan.
Jika Pemerintah tidak hadir, lanjut Ansar, maka tidak akan pernah tahu persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
“Beban moral dan tanggungjawab kita besar. Sebagai Gubernur saya punya tanggungjawab,” sambungnya.
Lingga merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Kepulauan Riau, memiliki 13 Kecamatan, 7 Kelurahan dan 82 Desa. Sebagian besar desanya berada di daerah pesisir yang masih terpencil dan terisolir. Selain sulit akses transportasi, juga minim jaringan komunikasi. Termasuk hal ini dialami oleh masyarakat di Desa Mentuda. Desa Mentuda sendiri terdiri dari 4 Dusun, yaitu Dusun Dusun Pulon, Dusun Jelutung, Dusun Tembuk dan Dusun Mentengah.
Akses menuju Desa Mentuda tidak mudah dan ini dialami oleh Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan rombongan. Meskipun tetap bisa dilalui, namun untuk kapal berbadan sedikit besar dan lebar seperti Kapal Kepri 1, keadaan alur lautnya terhitung terlalu dangkal dan beresiko kandas.
Disepanjang pelantar Desa mentuda, ribuan masyarakat sudah menunggu dengan pakaian beragam, dari anak-anak sampai orang tua.
Kepala Desa Mentuda, Darmawan didampingi sejumlah tokoh masyarakat dan adat setempat menyambut Gubernur Ansar dan rombongan. Prosesi penyambutan berlanjut, antusiasme masyarakat tumpah. Bahkan seorang ibu berteriak memanggil Gubernur dan meminta untuk bersalaman. Tabuhan kompang mengiringi perjalanan Gubernur dan rombongan disepanjang pelantar.
Adat pemberian tepung tawar dilakukan, adat silat dan tradisi penyambutan lainnya tidak ketinggalan. Hingga hidangan makanan terbaik sudah tersaji dengan baik. Gubernur Ansar tidak berhenti menyunggingkan senyum, menyalami setiap masyarakat yang ia temui dan menyempatkan diri bersua foto kepada siapapun yang meminta.
Pertemuan Gubernur Ansar dengen masyarakat Mentuda dipusatkan di lapangan sepak bola. Selain membuka turnamen Sepakbola Mentuda Cup V, merupakan kesempatan bagi masyarakat setempat untuk bersilaturahmi dengan Gubernur.
Disini Gubernur Kepri H. Ansar Ahmad mulai mendengarkan berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan oleh Kepala Desa Darmawan. Masyarakat merindukan ketersediaan jaringan internet, selain listrik yang masih belum terakses dengan baik. “Semoga apa yang menjadi keluhan masyarakat ini, dengan hadirnya Bapak Gubernur sekarang, kedepannya bisa ada solusi,” harap darmawan disambut tupuk tangan masyarakat dengan teriakan koor “Betuuuul,”.
Keluhan lainnya, lanjut Darmawan, saat ini satu-satunya akses ke Desa Mentuda hanya melalui jalur laut yang baru saja dilalui oleh Gubernur dan rombongan. Dan sangat bergantung dengan kondisi pasang dan surut nya air. “Ketika air pasang kami bisa beraktivitas, namun kalau surut kami hanya bisa diam di desa tanpa bisa apa-apa,” Katanya.
Tidak cukup dengan apa yang disampaikan oleh Darmawan, ternyata masyarakat juga mengutus salah seorang tokoh masyarakat setempat Islam Haris untuk melengkapi penyampaian aspirasi masyarakat kepada Gubernur Ansar.
“Mentuda ini masih terisolasi, akses hanya lewat sungai, pasang surut menentukan. Pernah ada masyarakat yang hamil dan terpaksa melahirkan di pompong, dan anaknya meninggal,” ojar Islam Haris kapad Gubernur.
Haris melanjutkan, masyarakat Mentuda meminta agar dibangunkan akses jalan darat menuju ibukota di Daik melalui Sei Tenam agar aktivitas masyarakat bisa lebih leluasa. Bahkan kata Haris, saat air pasang pun masyarakat mesih belum leluasa, karana kapal penumpang yang bersandar di Mentuda masih jarang, atau hanya satu pelayaran.
“Itulah keresahan kami pak Gubernur, kami butuh akses komunikasi, transportasi dan listrik yang memadai untuk mendukung aktivitas masyarakat dan anak-anak belajar” katanya dan didengarkan oleh Gubernur Ansar dengan seksama.
Gubernur Ansar pun satu persatu menjawab keresahan masyarakat Mentuda tersebut. Selain memberikan tambahan kekurangan dana untuk turnamen sepakbola yang sedang dilaksanakan, juga menjelaskan usaha Pemerintah Provinsi Kepri dalam upaya memaksimalkan penanggulangan titik-titik blank spot yang ada di Kepri, termasuk di Kabupaten Lingga, dan lebbig khusus uituk Desa Mentuda.
“Waktu baru dilantik, saya bersama Dinas Kominfo langsung ke Kemekominfo RI. Kita usulkan 111 BTS agar di bangun di Kepri. Dan Alhamdulillah disetujui 77 BTS. Sebanyak 28 BTS diantaranya dialokasikan di Kabupaten Lingga, selebihnya dibagi-bagi di kabupaten da kota laina,” jelas Ansar.
Gubernur juga meyakinkan, Saat ini Pemerintah Provinsi Kepri sedang menggesa hingga batas waktu akhir Oktober akses internet di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3 T) sudah bisa terlayani dengan baik. “Semoga saja, usaha kita ini lancar . Kita minta doa dari masyarakat semua,” katanya.
Begitu juga menyangkut akses jalan yang diidamkan masyarakat Mentuda, Sedikitnya dibutuhkan anggaran sebesar Rp60 miliar untuk itu. Namun demikian, Ansar masih bakan mengkaji ulang secara teknisnya karena jika jalur yang akan dilalui bersinggungan dengan hutan lindung, prosesnya akan sedikit rumit.
“Masalah jalan perlu kita kaji, kita diskusikan, mana yg paling efektif dibangun aksesnya. Kita hindari hutan lindung. Intinya saya akan dorong ini untuk menindaklanjuti,” kata Ansar.
Begitu juga menyangkut persoalan listrik, Gubernur Ansar akan segera komunikasikan hal ini kepada PLN. Tidak hanya untuk di Mentuda, tetapi juga untuk di daerah lain di Kepri yang masing belum teraliri listrik dengan maksimal.(r)
Editor: yan
