KAMPUS

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jadi PTKIN Peringkat Tertinggi Nasional

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Foto dok

PROKEPRI.COM, JAKARTA – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan peringkat tertinggi, menempati peringkat ke-22 nasional sekaligus peringkat 1.115 dunia.

Hal tersebut berdasarkan rilis pemeringkatan Webometrics edisi Juli 2026.

Selain UIN Sunan Kalijaga, terdapat 10 PTKIN lainnya juga masuk Top 100 Universitas di Indonesia.

PTKIN dimaksud diantaranya UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada peringkat 24 nasional, kemudian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di peringkat 41 nasional.

Sementara itu, delapan PTKIN lainnya yang berhasil masuk Top 100 adalah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Raden Intan Lampung, UIN Sumatera Utara, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan UIN Walisongo Semarang.

Indikator utama, yakni, Visibility, Openness, Excellence, dan Impact, menjadi dasar dalam pemeringkatan yang dilakukan oleh Webometrics ini.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Prof. Sahiron, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan total 11 PTKIN menembus jajaran 100 besar perguruan tinggi Indonesia merupakan hasil nyata dari transformasi pendidikan tinggi Islam yang terus dilakukan Kementerian Agama.

“Prestasi ini patut kita syukuri. Kehadiran sebelas PTKIN dalam Top 100 Universitas Indonesia membuktikan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam semakin kompetitif dan mampu berdiri sejajar dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga para mitra yang terus berkolaborasi membangun mutu pendidikan tinggi Islam,” ujar Sahiron dalam keterangan dilansir, Jumat (24/7/2026).

Dia juga menegaskan bahwa capaian tersebut tidak boleh dipandang semata sebagai keberhasilan dalam pemeringkatan, melainkan menjadi indikator meningkatnya kontribusi PTKIN terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan penyebarluasan hasil-hasil akademik kepada masyarakat.

Menurut Sahiron, indikator Webometrics mendorong perguruan tinggi untuk terus memperkuat publikasi ilmiah, keterbukaan akses pengetahuan, optimalisasi platform digital, serta meningkatkan visibilitas karya akademik di tingkat internasional.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh PTKIN untuk menjadikan hasil pemeringkatan ini sebagai motivasi dalam mempercepat transformasi kelembagaan.

“Kita tidak boleh cepat berpuas diri. Tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin kompleks. Karena itu, PTKIN harus terus meningkatkan kualitas riset, publikasi internasional bereputasi, inovasi, kolaborasi global, penguatan tata kelola digital, serta layanan akademik yang unggul agar mampu bersaing pada level dunia,” tegasnya.

Menurut Prof. Sahiron, capaian ini juga sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama dalam membangun pendidikan tinggi yang unggul, inklusif, dan berdampak. PTKIN diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan akademik, tetapi juga mampu melahirkan inovasi dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui penguatan tridarma perguruan tinggi.(i)

Editor: yn

Back to top button