Cafe Terapung Sungai Carang Tanjungpinang, Jadi Pilihan Wisata Kuliner Yang Mengasikkan

PROKEPRI.COM,TANJUNGPINANG – Cafe dengan konsep terapung di Tanjungpinang jadi salah satu rekomendasi wisata kuliner yang wajib dikunjungi.
Tempat tongkrongan ini bernama Cafe D’famz yang letaknya berada di atas aliran Sungai Carang Tanjungpinang.
Selain berkonsepkan cafe terapung, Cafe D’famz ini juga menyuguhkan pemandangan hutan mangrove sebagai spot foto pengunjung.
Saat sore hari, banyak pengunjung yang datang ke tempat ini. Mereka datang bersama keluarga dan juga ada yang datang berombongan.
Kebanyakan dari pengunjung yang datang ke sini untuk melihat pemandangan matahari terbenam atau sunset kala sore hari.
Selain itu, pengunjung juga bisa mencicipi kuliner yang disajikan oleh pemilik cafe.
Cafe D’famz ini tidak dapat menampung banyak orang.
Hanya menyediakan beberapa kursi dan meja bagi pengunjung yang datang.
Karena berkonsepkan cafe di atas air, bangunan cafe ini hanya ditumpui alat seperti drum agar bisa mengapung.
Tidak hanya cafenya saja yang unik dan menarik, di sini kita bisa melihat langsung pemandangan jembatan Sungai Carang dari bawah.
Ada juga perahu kayu yang bisa disewa. Pengunjung hanya membayar Rp 120 ribu per jam nya untuk kapasitas empat orang di atas perahu.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kepri Raja Heri Mokhrizal mengatakan wisata kuliner semacam ini sangat jarang ditemukan, karna mengambil konsep alam yang memberikan pemandangan yang menakjubkan bagi yang mengunjungi kafe tersebut.
“Kafe di Tanjungpinang sangat banyak, tetapi dengan konsep pemandangan seperti ini sangat sedikit, jadi ini sangat direkomendasikan, selain bisa ngopi, kita juga bisa melihat hutan mangrove juga”, Ungkap Raja Heri.
Makanan yang disuguhkan pun bervariasi, mulai dari olahan seafood, makanan berat hingga cemilan dan juga minuman dingin.
Untuk harganya sendiri cukup terjangkau, mulai dari Rp 8.000 sampai Rp 55.000.
Cafe D’famz bisa jadi rekomendasi wisata kuliner saat akhir pekan. Harganya cukup terjangkau dan bisa menikmati pemandangan hutan mangrove.
Editor: Muhammad Faiz
