Mendidik Karakter Siswa Dengan Khuruj

 

Oleh : TAUFIQ ALMINDATIFA, S.Pd

PROKEPRI.COM, OPINI – Di dalam kurikulum yang berlaku sekarang ini “Kurikulum 2013” disebutkan adanya pendidikan karakter. Seperti apa wujud nyata pendidikan karakter itu?.

Pertanyaan mendasarnya adalah perlukah pendidikan karakter? Untuk menjawabnya, mari kita lihat sejumlah keadaan di tanah air.

Kita menyaksikan fenomena tawuran sering terjadi di antara para siswa di banyak kota di Indonesia.

Aksi kekerasan dan kebrutalan semakin merajalela. Paparan pornografi dan penyalahgunaan narkoba semakin marak. Siswa berani memukul guru, bahkan sampai guru meninggal dunia.

Sejatinya, keluarga merupakan peletak dasar utama pendidikan karakter, karena siswa lebih banyak meluangkan waktunya dalam keluarga ketimbang di sekolah.

Namun, kenyataannya orang tua pun juga kewalahan dalam membina karakter anaknya. Kenyataan ini bertolak belakang dengan keterlaksanaan di sekolah.

Ketika para pendidik hendak membenarkan karakter siswa malah di laporkan kepada pihak yang berwajib.

Hal ini karena adanya Undang-Undang (UU) Hak Asasi Manusia (HAM) 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang melarang adanya tindak kekerasan.

Padahal yang dilakukan pendidik adalah benar untuk membina karakter siswa lebih baik lagi.

Apa sebenarnya pendidikan karakter itu? Pendidikan karakter adalah pendidikan yang diberikan untuk menyiapkan keterampilan siswa guna menghadapi kenyataan-kenyataan di dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Bagaimana membawa diri dalam pergaulan, bagaimana harus berbicara santun, bagaimana harus bertoleransi kepada orang lain.

Salah satu bentuk pendidikan karakter yang telah dilakukan dan memberikan dampak luar biasa bagi banyak orang adalah dengan metode khuruj yaitu dikeluarkannya manusia dari lingkungan yang selama ini membentuk karakter kurang baik, dimasukkan kedalam sebuah lingkungan dengan suasana damai, suasana ilmu dan suasana akhlak ditempat yang baik dan suci yaitu di masjid dan dengan standar bahwa manusia yang terbaik adalah mereka yang banyak melakukan kebaikan.

Bersatu dalam satu kelompok kecil, tua dan muda, kaya dan miskin, berbagai latar pendidikan, budaya, warna kulit, bahasa, daerah yang berbeda lebur menjadi satu dengan para ulama dan orang-orang shalih, saling melayani dalam waktu yang telah ditentukan, bersilaturahmi menembus batas wilayah.

Acara makan bersama, ibadah bersama, saling memuliakan, bersilaturahmi ke rumah–rumah adalah beberapa program yang berdampak positif, menimbulkan rasa persatuan dan persaudaraan.

Bukankah ini yang kita impikan, setelah selama ini kita menyaksikan maraknya tawuran, pertikaian antar kelompok, dan siswa membuli guru.

Proses khuruj ini dilakukan salah satunya yaitu dapat merubah karakter siswa yang buruk menjadi siswa yang beradab dan berahlak mulia sebabagaimana ahlak nabi Muhammad SAW.

Program khuruj ini khusus bagi para siswa hanya satu hari saja sebulan sekali, hal ini dilakukan agar tidak mengganggu waktu belajar siswa mengenai pelajaranya di sekolah.

Apa saja kegiatan siswa dalam khuruj? Siswa di ajarkan adab sehari-hari dari bangun tidur sampai tidur kembali yang telah di contohkan oleh nabi. Misalnya, adab makan, adab tidur, adab belajar, adab terhadap orang yang lebih tua, dan masih banyak lagi.

Hal ini adalah pembinaan karakter siswa dengan cara agama sebagaimana yag telah di ajarkan nabi kepada seluruh umatnya.

Tentu saja ini tidak semudah membalik telapak tangan, dikarenakan tidak semua orang setuju akan hal ini. Sebagian orang tua tidak setuju, bahkan ada yang mengatakan bahwa kegiatan khuruj ini adalah sesat.

Dalam kegiatan khuruj tentunya juga tidak sembarang dilakukan karena perpatokan pada dalil-dalil yang jelas. Landasan yang digunakan jamaah tabligh untuk berdakwah, merujuk pada beberapa ayat seruan berdakwah dalam al-Qur’an, antara lain yang termaktub dalam QS. Ali ʻImran [3]: 110 yang artinya:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi”.

Ada pun dalil tiga hari untuk khuruj atau satu hari bagi pelajar sebagai berikut:
“Kisah Nabi Zakaria a.s diperintahkan Allah swt tidak berbicara kepada manusia, tentang perkara dunia kecuali membicarakan kebesaran-kebesaran Allah dan berzikir sebanyak-banyaknya selama tiga hari. ( QS Ali Imran : 41)”.
“Rasulullah saw mengutus Abdurrahman bin Auf r.hu ke Dumah al Jandal untuk berdakwah selama tiga hari. (HR Darul Qutni)”.

Jika ditanya tentang apa dan bagaimana wujud pendidikan karakter itu, maka selalu merujuk pada pendidikan karakter dengan agama yaitu khuruj jamaah tabligh.

Pendidikan karakter itu mencakup ranah pengetahuan (cognitive), perasaan (affective), sikap (attitude), dan tindakan (action). Harus mampu memberikan ’asupan’ bukan hanya bagi raga, tetapi sekaligus juga bagi jiwa berupa moralitas untuk menentukan sikap baik-buruk atau benar-salah.

Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter harus dilakukan dengan mengacu kepada cara nabi Muhammad SAW.

Tantangan mendidik karakter siswa di akhir zaman semakin berat. Dengan berbagai kemajuan teknologi jangan sampai karakter siswa juga ikut rusak jika tidak dipenuhinya asupan agama di dalamnya.

Pendidikan karakter merupakan kunci membangun peradaban agama, bangsa, dan negara yang memanusiakan manusia sesuai keinginan dan cita-cita nabi Muhammad SAW.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.