Rektor Umrah Bantah Paksa Dekan FE Mundur

Syafsir Akhlus : Itu Permintaan Rektor UNJ

Rektor UMRAH Prof Syafsir Akhlus. Foto Internet

Rektor UMRAH Prof Syafsir Akhlus. Foto Internet

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Rektor Umrah Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc membantah kabar mundurnya Dekan Fakultas Ekonomi (FE), Drs. Henry Eryanto, MM karena dipaksa serta diduga lantaran tak memilih dirinya pada Pemilihan Rektor (Pirek) baru-baru ini.

“Memang beliau disuruh pulang oleh Rektor UNJ. Rektor UNJ yang minta pulang, ya saya pulangin. Kabar karena Pirek tak ada. Jadi beliau diminta rektornya pulang tak ada hubungan sama Pirek. Alasannya, karena Henry masih statusnya mahasiswa S3. Menurut peraturan mereka di UNJ itu, ada batasan tertentu saya tidak tau ya. Kalau belum selesei dia harus ditarik, begitu,” kata Rektor Umrah Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc memberikan klarifikasi kepada Prokepri.com di Tanjungpinang, Kamis (12/5).

Akhlus menegaskan, bahwa urusannya bukan di Umrah, tetapi di UNJ.

“Bukan sama saya. Iya dong, saya kan pertanyakan. Disposisinya, saya jawab, saya harus komunikasikan. Di Umrah pun tidak boleh seperti itu, sedang S3. Cuma selama ini saya lindungilah istilahnyakan. Tetapi, karena peraturan UNJ tidak memperbolehkan, UNJ yang menariknya lagi. Tentu saya konfirmasi, bagaimana dengan Umrah ini
gak boleh,” ucap putra kelahiran Kabupaten Bintan dan mantan Guru Besar Bidang Kimia Fisika dan Foto Kimia di Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini.

Mantan Pembantu Dekan Bidang Akademik di Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITS Periode 2003-2007 itu menginginkan setiap permasalahan yang diembannya supaya segera clear. Apalagi masa jabatannya akan berakhir.

“Jadi supaya masalah ini clear sebelum masa jabatan saya habis, ya kita komunikasi. Dia (Henry) bilang saya S3, dan bisa mempertahankannya hanya pada masa jabatan saya, kan gitu. Sekarangkan masa jabatan saya kan sudah selesei, bukan masalah berkaitan Pirek. Pak Henry itu memang seharusnya pulang ke UNJ. Karena keberadaannya tak sesuai dengan aturan di Umrah maupun di UNJ. itu saja,” cerita Akhlus.

Akhlus memastikan siapapun nanti pengganti Henry Eryanto untuk mengisi jabatan sebagai Dekan FE di Umrah, harus melalui proses pemilihan demokratis.

“Kalau yang lain saya tak tau karena itu isu semua. Sementara untuk posisi itu kita Plt (Pelaksana Tugas) kan dulu jabatan itu. Nanti sudah Rektor baru dilantik, kita sudah menerapkan pemilihan dekan secara demokrasi nantinya. Kan jelas dan gak ada hubungan itu, ini. Masa jabatan saya, masalah apapun harus saya clearkan terlebih
dahululah,” sambungnya

Akhlus harus mengambil kebijakan dengan mengembalikan Henry ke UNJ karena posisi yang bersangkutan itu telah melanggar aturan serta tidak boleh menjadi Dekan FE. Apa yang sebelumnya terjadi, masih Akhlus, karena dilindungi Rektor Umrah melalui kebijakan.

“Sekarang batas jabatan saya berakhir. Jadi saya seleseikan dulu urusan saya. Saya laporkan ke menteri, sudah tidak ada lagi pelanggaran yang saya buat,” katanya lagi.

Terkait masalah belum dibayarkannya tunjangan pegawai dan dosen di lingkungan Umrah, Akhlus membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, persoalan itu ada di Diknas Provinsi Kepri.

“Masih nyangkut di Diknas provinsi. Anggaran hibah itu sudah disetujui pada waktu proses yang lalu oleh Dprd Kepri. Buktinya, sudah ada di APBD 2016. kemudian sekarang proses pencairan. Untuk pencairan, salah satu mekanismenya adalah rekomendasi dari kepala dinas. Semua proses diikuti dan saya berkali-kali kirim utusan,
menanyakan apa masalahnya. Tetapi, tidak ada jawaban secara konfrehensif. Masalahnya disana, bukan saya,” ungkap Akhlus.(***)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan