KAMPUS

Tertarik Kearifan Lokal dalam Sastra Lisan Pulau Penyengat, Tim Peneliti UMRAH Lakukan Kajian Mendalam

Tampak tim peneliti dari UMRAH di Pulau Penyengat Tanjungpinang. Foto prokepri/RP

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Tradisi sastra lisan masyarakat Melayu di Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau, yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari, kini kian jarang dituturkan. Arus modernisasi dan digitalisasi membuat generasi muda lebih akrab dengan budaya populer ketimbang tradisi lisan warisan leluhur mereka sendiri.

Kondisi ini mendorong tim peneliti dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) melakukan kajian khusus mengenai nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam sastra lisan tersebut.

“Pulau Penyengat dikenal luas sebagai kawasan bersejarah yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga sekaligus pusat perkembangan kebudayaan Melayu. Di pulau kecil inilah lahir sejumlah karya sastra klasik, termasuk Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Jadi peninggalan sastra di Penyengat ini menarik untuk terus diteliti, ujar dosen peneliti dari FKIP UMRAH Mulia Wiwin dalam keterangan, Rabu (2/9/2026).

Hingga kini, masyarakatnya masih menyimpan berbagai bentuk sastra lisan, mulai dari pantun, syair, gurindam, hikayat, cerita rakyat, mantra, hingga mitos lokal.

Wiwin melihat penguasaan sastra lisan kini banyak bertumpu pada tokoh adat dan generasi tua, sementara generasi muda mulai kehilangan pemahaman terhadap makna budaya di baliknya.

“Kita meyakini sastra lisan bukan sekadar hiburan. Dalam masyarakat tradisional, ia berfungsi sebagai media pendidikan, penyampai nilai moral, penguat adat istiadat, sekaligus sarana pewarisan pengetahuan antargenerasi,” kata Wiwin yang didampingi peneliti seperti M Yunus, Zaitun, Musliha, dan Robby Patria.

Setiap bentuk sastra lisan yang hidup di Pulau Penyengat baik cerita rakyat, pantun, gurindam, maupun mitos lokal mengandung nilai kearifan lokal yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat, mencakup nilai religius, moral, sosial, gotong royong, penghormatan terhadap adat, hingga harmonisasi hubungan manusia dengan alam.

Sejumlah penelitian mengenai sastra Melayu memang telah banyak dilakukan, khususnya terkait pantun, syair, dan gurindam karya Raja Ali Haji. Akan tetapi, kajian yang secara khusus menelaah fungsi sosial-budaya serta nilai kearifan lokal dalam sastra lisan masyarakat Pulau Penyengat masih relatif terbatas.

Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memperkaya kajian ilmiah di bidang sastra lisan, folklor, dan budaya Melayu, tetapi juga memberi manfaat praktis bagi berbagai pihak.

Bagi masyarakat Pulau Penyengat, penelitian ini diharapkan menjadi salah satu upaya konkret pelestarian sastra lisan dan penguatan identitas budaya Melayu. Bagi pemerintah daerah, temuan penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan penyusunan kebijakan pelestarian budaya sekaligus pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal. Sementara bagi dunia pendidikan, hasil kajian berpeluang dimanfaatkan sebagai sumber bahan ajar berbasis budaya lokal dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Para peneliti berharap, di tengah derasnya arus globalisasi, upaya dokumentasi dan analisis ini dapat menjadi langkah awal menyelamatkan warisan sastra lisan Melayu di Pulau Penyengat agar tidak hilang ditelan zaman.(r/yan)

Back to top button