Ini Kisah Pilu Petugas Kebersihan di Kota Tanjungpinang

PROKEPRI.COM, TANJUNGPINANG – Di tengah lalu-lalang deru roda kendaraan kesibukan di Kota Tanjungpinang yang tampak tak perduli dengan arti penting kehadiran petugas Kebersihan. Jasa ibu Sini dan teman-temannya begitu besar dalam menjaga Kota Gurindam agar selalu layak mendapatkan anugerah Piala Adipura.
Sini (49), petugas kebersihan tampak menyapu jalan raya yang dipenuhi dedaunan kering dan sampah plastik berbagai produk makanan ringan yang berserak di depan Tugu Pahlawan Raja Haji Fisabillah, Selasa (7/3).
Tubuhnya tampak renta, di balut dengan baju training merah yang basah di bagian leher dan punggung, basah karena keringat kegiatannya yang telah satu jam lebih
membersihkan bagian pinggir jalan raya. Walaupun begitu, wajahnya yang di balut dengan jilbab hitam tampak bersih pancarkan ketabahan hatinya.
Pukul 06.00 Wib, Ibu Sini memulai kerjanya hingga pukul 08.00 Wib. Lalu, tepat pukul 14.00 Wib hingga pukul 16.00 Wib, dia memulai lagi kerjanya untuk membersihkan jalan yang merupakan bagian tugasnya.
Ibu Sini, menyatakan keprihatinannya terhadap kepedulian warga yang tidak membuang sampah pada tempat yang telah di sediakan.
“Tong sampah itu tak ada isi, baru berisi tong sampah itu kalau petugas kebersihan nyapu di taman, baru ditumpuk di situ, nunggu lori sampah angkut ke TPA di Batu 11, tengok situ malam minggu tu, menumpuk sampah di batu miring itu, padahal tong sampah ada empat jenis disediakan, tapi tetap saja tak digunakan,” tutur perempuan yang sudah berumur 49 tahun itu.
Upah yang diterima Ibu Sini selama sebulan sebanyak Rp1,3 juta rupiah. Dengan uang segitu ia gunakan untuk menghidupi 10 orang anaknya. Dia seorang diri membesarkan anak-anaknya, suaminya telah 10 tahun meninggalkannya dengan 10 orang anak yang harus ia tanggung sendiri.
“Kalau dibilang tak cukup ya, memang tak cukup kan,” Curhat Bu Sini
34 tahun Ibu Sini merantau dari Teluk Kuantan ke Tanjungpinang. Ia tetap tegar menghadapi berbagai kesulitan hidup membiayai kebutuhan anak-anaknya, sikap optimis tampak jelas dari kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya,”Ya mau macam mana lagi, hidup harus di jalani, kalau tak rajin sholat dan mengaji, mungkin ibu sudah gila,” ungkap Bu Sini.
Tersebab pekerjaannya itu, orang-orang sering memanggilnya petugas kebersihan kota, walau demikian sautu ketika saat ia sedang dalam keadaan lelah, jengkel juga melihat kelakuan warga yang tidak mengerti arti menjaga kebersihan.
“Terkadang, orang yang bawa mobil ini ya, di mana aja dia betenggek, di situ dia buang tisu, puntung rokok, Ibu jengkel juga lihatnya, baru saja di bagian situ Ibu bersihkan nanti beberapa menit kemudian ada 3 mobil, ibu pandang ke belakang sudah kotor lagi, kadang Ibu marah, ini tak ngerti atau disengaja! dicampak di sini memang ada pembantu apa? aku ni engkau yang gaji atau siapa? ibu dah meradang di situ kan, tak peduli TNI atau siapakah, apalagi hari minggu, tak dapat dibilanglah, banyak sampah belonggok di situ, tapi kan orang ini tak ngerti dia, kita capek ke, demam ke, kalau kadang tak dapat turun nyapu, siapa nak gantikan? taulah anak sendiri mana mau dia nyapu, gengsilah dia nak nyapu, kadang kalau pening-pening ibu makan pil agak bekurang, paksakan jugalah turun nyapu, sampah-sampah daun kering itu biasalah, tapi sampah sisa makanan ini yang teruk,” curhat Ibu Sini lagi.
Ibu Sini yang berumur 49 tahun ini juga mengeluhkan minimnya apresiasi pemerintah terhadap kesetiaan mereka bekerja menjaga piala Adipura yang telah diberikan perintah pusat kepada kota Tanjungpinang.
“Masa setelah dapat adipura 5 tahun ini bonusnya cuma empat ratus ribu, kita sudah kerja nak mampus, dulu bonus 5 tahunan kami dapat 8 ratus ribu, tapi sekarang entahlah,” ucap Bu Sini sambil menahan air matanya yang akan tumpah mengenangkan semua yang telah ia rasakan membebani pundaknya.
Walaupun begitu sulitnya, semangat Ibu Sini masih menyala.
Reporter : Rudi Rendra
